Besok, tepat 10 tahun saya menjejakkan kaki untuk yang pertama kalinya di puncak Gunung Gede yang memiliki tinggi 2.958 meter. Keberhasilan itu yang kemudian memecut saya untuk mendaki gunung-gunung lainnya.
Ya, Gede memang menjadi titik awal. Bukan tanpa alasan saya memilih gunung yang terletak di Jawa Barat tersebut sebagai pendakian perdana. Ini berawal dari rasa tidak percaya diri saya melakoni kegiatan hiking: takut tidak kuat.
Maklum saja, mendaki gunung itu kan pekerjaan yang berat. Mesti melewati medan yang menanjak sambil menggendong ransel segede gaban yang pastinya berat banget. Jarak yang ditempuh minimal belasan kilometer. Siapa yang tahan?
Nah, kebetulan adik saya tercinta yang waktu itu masih duduk di bangku STM menjadi volunteer Gede Pangrango Operation (GPO), yang bertugas di jalur pendakian Gunung Putri, Cipanas. Jadilah, saya memulai pendakian perdana pada 23 Agustus 1998 lalu.
Toh, kalau tidak kuat sehingga tak bisa mencapai puncak, no problem. Adik saya pasti mengerti sehingga tidak perlu melanjutkan perjalanan hingga puncak. Beda kalau dengan teman, wah, bisa bikin mereka kecewa berat.
Pendakian ke Gede itu bisa dibilang pendakian keluarga. Soalnya, selain saya dan adik, ada kakak, calon kakak ipar, dua sepupu dan dua paman. Total jenderal, ada delapan orang. Dan, hanya dua orang yang pernah mendaki gunung: adik dan salah satu sepupu saya.
Menjelang sore kami mulai pendakian melewati jalur Cibodas. Awalnya, berat banget. Sampai ngos-ngosan dibuatnya. Tapi, pendakian berjalan lancar hingga kami sampai di Kandang Badak--titik yang membelah jalur ke Puncak Gede dan Pangrango--mendekati tengah malam. Dan, menginjakkan kaki di puncak Gede menjelang subuh.
Nggak menyangka, saya bisa menjejakkan kaki di puncak Gede dalam semalam. Sukses ini yang lantas mendorong saya untuk mendaki Gunung Merbabu beberapa bulan kemudian. Bahkan, selang waktu yang lama saya mendaki Gunung Sumbing dan Lawu.
Dan, menyusul gunung-gunung lainnya, termasuk Gunung Semeru yang merupakan atap tertinggi di Pulau Jawa, dan Gunung Agung, yang adalah tanah paling tinggi di Pulau Bali. Semuanya ada 10 gunung, meski tidak seluruhnya sampai di puncak, seperti Sindoro dan Salak.
malam di kebayoran lama
Jumat, 22 Agustus 2008
Selasa, 29 Juli 2008
PITRA YADNYA (2)


TANGIS I Nyoman Anarta pecah. Tak kuat menahan sedih yang luar biasa, dia pun terduduk lemas di hadapan sesenden alias periuk yang menyimpan "jasad" anak keduanya I Kadek Puadi Giri (20) yang tewas tahun lalu akibat kasus tabrak lari.
Senin (14/7) malam pekan lalu, merupakan hari terakhir buat Nyoman memberikan penghormatan kepada anak lelakinya itu. Begitu juga bagi keluarga dan kerabat. Sebab, esok harinya Kadek dan 23 warga Banjar Kebon Jero, Tabanan lainnya yang sudah meninggal bakal diaben.
Karena itu, bale banjar yang menjadi tempat bersemayam ke-24 jasad tersebut penuh sesak oleh orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Termasuk, sanak famili yang datang dari luar Pulau Bali. Soalnya, upacara ngaben mempunyai arti yang sangat penting.
Sebut saja, Ni Ketut Sukarni. Ibu tiga anak ini terbang dari Baras, Sulawesi Selatan untuk menghadiri upacara ngaben adik iparnya, Ni Made Miarti yang menghadap Sang Hyang Widi Wasa tahun lalu. "Ini bakti terakhir kepada adik saya," kata Ketut Sukarni yang transmigrasi ke Baras pada 1980-an silam.
Itu sebabnya, tak kurang dari 1.000 orang yang terdiri dari warga Kebon Jero dan keluarga almarhum ikut dalam Pitra Yadnya Massal yang digelar 15 Juli lalu. Dalam kepercayaan Hindu Bali penting sekali memilih hari untuk upacara. "Karena pengaruh hari menentukan baik buruknya upacara," jelas I Made Sana, Pembantu Pemangku.
Proses pembakaran mayat ini diawali dengan memindahkan "jasad" yang disimpan dalam tumpang salu ke peringkesan. Kain putih sepanjang 20 meter membentang dengan di kanan kirinya sudah berjajar rapih orang yang siap mengestafet "jenazah" ke peringkesan yang memiliki tinggi empat meter.
Made Sana bilang, makin tinggi peringkesan maka makin tinggi tingkatan upacara ngaben. Dan tentu saja, makin banyak mengeluarkan ongkos. "Untuk upacara ngaben kali ini kami memakai prosesi Utama Ning Madya atau tingkatan keenam dari sembilan tingkatan," ujarnya.
Peringkesan lalu digotong sekitar 50 orang menuju kuburan desa, tempat prosesi pembakaran mayat, yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer. Sesekali tempat membawa "jasad" itu digoyang-goyangkan mengikuti irama musik khas Bali yang dimainkan belasan warga Kebon Jero.
Begitu sampai di kuburan, "jasad" kemudian dipindahkan ke dua patung sapi berwarna hitam yang menjadi sarana pembakaran. Satu untuk "jenazah" perempuan, satu lagi buat lelaki. Ikut juga diaben benda-benda yang diminta almarhum.
Biasanya, tiga atau empat bulan sebelum upacara ngaben masing-masing keluarga almarhum melakukan ritual nurunin. Memanggil roh atau atma orang yang mau diaben lewat orang pintar. "Kami menanyakan benda-benda apa saja yang diminta untuk dibakar," kata Made Sana.
Setelah proses pembakaran selesai, keluarga akan mengambil abu jenazah yang akan dihanyutkan ke sungai yang membelah hutan lindung Pupuan yang jaraknya setengah jam berjalan kaki. Abu lainnya dilarung di Pantai Soka yang menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tabanan.
Tak semua abu dilarung. Ada juga yang disimpan di sanggah atau pura keluarga. Prosesi ini dilakukan keesokan harinya setelah abu yang disimpan dalam sesenden dibawa ke lima pura Banjar Kebon Jero. Setelah itu, "Orang yang sudah diaben bergelar Hyang Betara untuk pria dan Hyang Betari untuk wanita. Satu tingkat di bawah Dewa," ungkap Made. (Selesai)
PITRA YADNYA (1)



PURNAMA yang nyaris sempurna menggantung di langit Tabanan yang dingin. Sabtu malam dua pekan lalu, keriuhan membalut Bale Banjar Kebon Jero. Ratusan warga memadati balai desa yang berdiri kokoh di kawasan perbukitan Pupuan, Bali yang menggigil tersebut.
Ya, hari (12/7) itu, prosesi inti upacara ngaben massal di Banjar Kebon Jero, sekitar satu setengah jam perjalanan darat dari Kota Tabanan, dimulai, sebelum mencapai puncaknya pada 15 Juli. Tapi sejatinya, serentetan upacara pembakaran 24 "jasad" warga desa ini sudah dilakukan sejak sepekan sebelumnya.
Pengangkatan "jasad" dari liang kubur atawa ngringkes menjadi awal dari prosesi inti Pitra Yadnya. Maklum, ke-24 orang yang bakal diaben tersebut sudah lama meninggal. Tapi, "Menurut adat banjar kami yang diambil hanya tanahnya saja, tulang belulangnya tidak," kata I Made Sana, pembantu Pemangku Banjar Kebon Jero.
Setelah itu, ke-24 "jasad" warga Kebon Jero yang sudah meninggal dalam lima tahun terakhir dan dibungkus kain putih tersebut di semayamkan di bale banjar. Warga menyebutnya tumpang salu. Ada juga bagian tanah yang disimpan dalam periuk atau sesenden.
Itu sebabnya, ratusan warga Kebon Jero dan keluarga almarhum malam itu mengalir ke bale banjar. Tujuannya, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mereka-mereka yang sudah lebih dulu menghadap ke Sang Hyang Widi Wasa.
Made Sana bilang, upacara ngaben massal di desanya dilaksanakan saban lima tahun sekali atau menjelang upacara besar di Pura Kayangan. "Sebaiknya memang harus diaben langsung begitu meninggal, tapi bisa ditunda dengan alasan biaya," ujarnya.
Memang, proses mengantarkan roh atau atma menuju nirwana membutuhkan duit yang tidak sedikit. Contoh, untuk ngaben massal di Kebon Jero saja melahap uang tak kurang dari Rp 80 juta. Itu belum termasuk nilai ragam sumbangan, seperti beras, gula, dan sesajen, yang berasal dari warga.
Dan, mencari duit sebanyak itu jelas bukan perkara gampang bagi penduduk Kebon Jero yang mayoritas berprofesi sebagai pekebun kopi dan cokelat. Karena itu, Ni Wayan Pasti baru sekarang mengabenkan adik iparnya yang meninggal tahun lalu. "Dengan ngaben massal kami lebih ringan, hanya mengeluarkan biaya Rp 5 juta saja," ungkapnya.
Kepercayaan Hindu Bali, orang yang belum diaben, rohnya masih berada di alam buah alias tengah. Mereka masih dalam perjalanan menuju surga. Nah, "Upacara ngaben merupakan sarana mempercepat badan kasar yang terdiri dari unsur tanah, air, api, angin dan angkasa menyatu dengan alam nirwana," jelas Made Sana.
Sebelum dibakar, ada upacara lagi yang mesti dilakoni sehari setelah ngringkes yakni mebersih. Ini adalah proses memandikan "jasad" yang dilakukan di sungai. Ke-24 jasad tersebut diarak dengan berjalan kaki menuju kali, sekitar satu kilometer dari bale banjar. (Bersambung)
KERINDUAN ITU
Kerinduan itu akhirnya terbayar lunas. Lama tidak melakoni hobi mendaki gunung, secara tidak sengaja kegiatan itu terlaksana sewaktu mengikuti prosesi Upacara Ngaben Massal di Banjar Kebon Jero, Tabanan, Bali dua pekan yang lalu.
Ceritanya begini, usai upacara pembakaran mayat yang digelar pada 15 Juli lalu, salah satunya “jasad” adalah almarhum ibu mertua, dilakukan prosesi melarung sebagian abu jenazah ke sungai yang membelah kawasan hutan lindung Tabanan.
Jarak antara lokasi upacara ngaben dengan kali sekitar setengah jam berjalan kaki. Jalurnya menurun, lumayan terjal, melewati perkebunan kopi dan coklat yang buahnya ranum, siap panen. Perjalanan agak sedikit ribet lantaran saya menggunakan pakaian adat Bali.
Tapi, yang pasti sangat menyenangkan. Dan, kerinduan itu akhirnya terbayar lunas. Oh ya, prosesi upacara ngaben massal bisa dibaca dalam posting berikutnya yang sudah dimuat di Harian KONTAN, tempat saya bekerja, pada Jumat (25/7) dan Sabtu (26/7) di Rubrik Daerah Halaman 16.
siang di kebayoran lama
Ceritanya begini, usai upacara pembakaran mayat yang digelar pada 15 Juli lalu, salah satunya “jasad” adalah almarhum ibu mertua, dilakukan prosesi melarung sebagian abu jenazah ke sungai yang membelah kawasan hutan lindung Tabanan.
Jarak antara lokasi upacara ngaben dengan kali sekitar setengah jam berjalan kaki. Jalurnya menurun, lumayan terjal, melewati perkebunan kopi dan coklat yang buahnya ranum, siap panen. Perjalanan agak sedikit ribet lantaran saya menggunakan pakaian adat Bali.
Tapi, yang pasti sangat menyenangkan. Dan, kerinduan itu akhirnya terbayar lunas. Oh ya, prosesi upacara ngaben massal bisa dibaca dalam posting berikutnya yang sudah dimuat di Harian KONTAN, tempat saya bekerja, pada Jumat (25/7) dan Sabtu (26/7) di Rubrik Daerah Halaman 16.
siang di kebayoran lama
Rabu, 09 Juli 2008
RING OF FIRE

Akhir pekan ini, saya dan keluarga bakal terbang ke Bali. Perayaan Ngaben almarhum ibu yang puncaknya bakal digelar 15 Juli mendatang menanti.
Seperti biasa saya memilih penerbangan pagi. Bukan tanpa alasan. Yang pertama, supaya sampai di kampung halaman istri sebelum malam menyergap. Maklum, masih perlu tiga jam lagi dari Bandara Ngurah Rai untuk bisa sampai di Dusun Kebon Jero, Tabanan.
Yang kedua, ini yang paling saya suka: menyaksikan deretan gunung yang berjejer dari ujung barat Pulau Jawa hingga timur dari atas pesawat. Mulai dari Gunung Slamet, Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu hingga Bromo dan Semeru. Cuma dengan satu syarat: cuaca mesti dalam keadaan cerah.
Nah, biasanya pilot akan memberi woro-woro kalau pesawat sedang terbang di atas Gunung Bromo dan Semeru.
Pulau Jawa memang banyak dihuni gunung berapi, mulai dari yang paling aktif di dunia seperti Merapi, yang sedang tertidur layaknya Sindoro sampai yang sudah betul-betul mati. Begitu juga dengan pulau-pulau lainnya banyak tumbuh gunung api.
Nggak heran kalau Indonesia dikenal juga dengan sebutan Sabuk Gunung Api atawa Ring of Fire.
siang di kebayoran lama
Seperti biasa saya memilih penerbangan pagi. Bukan tanpa alasan. Yang pertama, supaya sampai di kampung halaman istri sebelum malam menyergap. Maklum, masih perlu tiga jam lagi dari Bandara Ngurah Rai untuk bisa sampai di Dusun Kebon Jero, Tabanan.
Yang kedua, ini yang paling saya suka: menyaksikan deretan gunung yang berjejer dari ujung barat Pulau Jawa hingga timur dari atas pesawat. Mulai dari Gunung Slamet, Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu hingga Bromo dan Semeru. Cuma dengan satu syarat: cuaca mesti dalam keadaan cerah.
Nah, biasanya pilot akan memberi woro-woro kalau pesawat sedang terbang di atas Gunung Bromo dan Semeru.
Pulau Jawa memang banyak dihuni gunung berapi, mulai dari yang paling aktif di dunia seperti Merapi, yang sedang tertidur layaknya Sindoro sampai yang sudah betul-betul mati. Begitu juga dengan pulau-pulau lainnya banyak tumbuh gunung api.
Nggak heran kalau Indonesia dikenal juga dengan sebutan Sabuk Gunung Api atawa Ring of Fire.
siang di kebayoran lama
Senin, 30 Juni 2008
EVAKUASI SALAK
Evakuasi. Kata ini belakangan akrab di telinga menyusul jatuhnya pesawat Casa 212 milik TNI Angkatan Udara di lereng Gunung Salak, Bogor, Kamis (26/6) pekan lalu.
Nah, ngomong-ngomong soal evakuasi ingatan saya lari ke 2005 lalu. Waktu itu, saya dan sejumlah teman dari TEMPO Adventure Team alias Tante berkemah di kaki Gunung Salak, persisnya, daerah Cidahu, Sukabumi.
Siang menjelang sore, saya dan dua rekan asyik ngopi di warung yang letaknya tak jauh dari tenda yang kami dirikan. Dua orang pria, yang satu umurnya sekitar 40-an dan satu lagi masih remaja, juga sedang menikmati segelas kopi. Belakangan, kami tahu mereka ada guru dan murid yang sekolah tempat keduanya mengajar dan belajar sedang mengadakan kegiatan berkemah di Cidahu.
Tapi, mereka kelihatan gelisah. Pandangan keduanya sering mengarah ke jalur pendakian menuju Kawah Ratu.
Usut punya usut, rupanya mereka sedang menanti cemas sembilan murid dan rekannya yang belum juga kembali dari Kawah Ratu. Si bapak guru itu bilang, anak didiknya pergi diam-diam tanpa sepengetahuan guru pendamping sejak pagi hari.
Akhirnya, kami memutuskan menyusul ke Kawah Ratu. Setelah menyiapkan bekal seadanya, seperti air, roti dan senter kami pun memulai perjalanan.
Belum sampai di tempat tujuan, kami ketemu sebagain dari murid SMP asal Jakarta itu. Dua di antaranya dalam kondisi kecapean berat.Ini lantaran mereka tidak membawa bekal yang cukup sewaktu menuju ke kawah ratu. Sebungkus roti dan sebotol aqua yang kami bawa berpindah tangan ke mereka.
Dari anak-anak baru gede itu kami mendapat informasi salah satu rekannya pingsan dan sedang dalam proses evakuasi. Rupanya, sejumlah anak IPB yang kebetulan melakukan kegiatan di Cidahu sudah berangkat lebih dulu. Kami lantas mempercepat jalan menuju Kawah Ratu.
Tak lama berlalu, kami bertemu dengan rombongan yang sedang menggotong tandu. Isinya, seorang perempuan yang tergolek lemah sambil menggigil hebat. Wajah-wajah pembawa tandu tampak sangat kelelahan. Kami pun memutuskan menggantikan posisi mereka. Medan yang menurun dan licin lantaran baru saja diguyur hujan mempersulit langkah kami. Tak jarang kami terjatuh gara-gara terpleset. Apalagi, saat itu kami semua hanya memakai sandal. Gara-gara mengganggu, kami akhirnya mencopot alas kaki itu dan memilih nyeker. Syukur kami tiba di Cidahu sebelum malam menyergap.
Puih…., proses evakuasi yang betul-betul berat dan melelahkan. Ketika membersihkan kaki di sungai kecil yang airnya sangat dingin, saya merasakan perih yang luar biasa. Ternyata, kuku kaki jempol saya robek hingga bagian tengah. Perih dan rasa nyut-nyut terus berlanjut hingga malam hari. Sampai-sampai untuk sekadar memejamkan mata pun tak bisa.
Tapi, saya senang bisa membantu proses evakuasi itu. Senang bisa membantu sesama.
sore di kunciran
Nah, ngomong-ngomong soal evakuasi ingatan saya lari ke 2005 lalu. Waktu itu, saya dan sejumlah teman dari TEMPO Adventure Team alias Tante berkemah di kaki Gunung Salak, persisnya, daerah Cidahu, Sukabumi.
Siang menjelang sore, saya dan dua rekan asyik ngopi di warung yang letaknya tak jauh dari tenda yang kami dirikan. Dua orang pria, yang satu umurnya sekitar 40-an dan satu lagi masih remaja, juga sedang menikmati segelas kopi. Belakangan, kami tahu mereka ada guru dan murid yang sekolah tempat keduanya mengajar dan belajar sedang mengadakan kegiatan berkemah di Cidahu.
Tapi, mereka kelihatan gelisah. Pandangan keduanya sering mengarah ke jalur pendakian menuju Kawah Ratu.
Usut punya usut, rupanya mereka sedang menanti cemas sembilan murid dan rekannya yang belum juga kembali dari Kawah Ratu. Si bapak guru itu bilang, anak didiknya pergi diam-diam tanpa sepengetahuan guru pendamping sejak pagi hari.
Akhirnya, kami memutuskan menyusul ke Kawah Ratu. Setelah menyiapkan bekal seadanya, seperti air, roti dan senter kami pun memulai perjalanan.
Belum sampai di tempat tujuan, kami ketemu sebagain dari murid SMP asal Jakarta itu. Dua di antaranya dalam kondisi kecapean berat.Ini lantaran mereka tidak membawa bekal yang cukup sewaktu menuju ke kawah ratu. Sebungkus roti dan sebotol aqua yang kami bawa berpindah tangan ke mereka.
Dari anak-anak baru gede itu kami mendapat informasi salah satu rekannya pingsan dan sedang dalam proses evakuasi. Rupanya, sejumlah anak IPB yang kebetulan melakukan kegiatan di Cidahu sudah berangkat lebih dulu. Kami lantas mempercepat jalan menuju Kawah Ratu.
Tak lama berlalu, kami bertemu dengan rombongan yang sedang menggotong tandu. Isinya, seorang perempuan yang tergolek lemah sambil menggigil hebat. Wajah-wajah pembawa tandu tampak sangat kelelahan. Kami pun memutuskan menggantikan posisi mereka. Medan yang menurun dan licin lantaran baru saja diguyur hujan mempersulit langkah kami. Tak jarang kami terjatuh gara-gara terpleset. Apalagi, saat itu kami semua hanya memakai sandal. Gara-gara mengganggu, kami akhirnya mencopot alas kaki itu dan memilih nyeker. Syukur kami tiba di Cidahu sebelum malam menyergap.
Puih…., proses evakuasi yang betul-betul berat dan melelahkan. Ketika membersihkan kaki di sungai kecil yang airnya sangat dingin, saya merasakan perih yang luar biasa. Ternyata, kuku kaki jempol saya robek hingga bagian tengah. Perih dan rasa nyut-nyut terus berlanjut hingga malam hari. Sampai-sampai untuk sekadar memejamkan mata pun tak bisa.
Tapi, saya senang bisa membantu proses evakuasi itu. Senang bisa membantu sesama.
sore di kunciran
Kamis, 19 Juni 2008
PUNCAK TOGA
Akhir pekan lalu, menjadi hari yang paling dinanti-nanti dengan rasa dag-dig-dug oleh ratusan ribu pelajar kelas tiga SMA. Ya, hari itu kelulusan mereka usai menempuh ujian nasional diumumkan. Begitu tahu lulus, banyak cara yang dilakukan untuk mengekspresikan kegembiraan. Ada yang doa massal di pura seperti yang dilakukan pelajar Bali. Lalu, ada yang konvoi keliling kota dengan menumpang motor. Tapi yang paling populer adalah aksi coret baju yang memang sudah menjadi tradisi.
Sebagai orang yang punya hobi naik gunung, saya punya cara yang beda dan unik sebagai wujud syukur setelah berhasil menyabet gelar sarjana komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta delapan tahun lalu. Sebetulnya, ini juga menjadi tradisi bagi sebagian pendaki: memakai toga di puncak gunung. Dan, saya memilih puncak Merbabu yang bernama Kenteng Songo. Gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut (dpl) memang menjadi favorit saya. Ini kali ketiga saya mendaki gunung tersebut
Perjalanan saya menuju puncak gunung yang hidup berdampingan dengan Merapi tersebut di awal 2001 yang masih diguyur hujan ditemani adik dan dua teman. Cuaca cerah menemani pendakian kami dari Selo yang menjadi salah satu kaki Merbabu. Menjelang tengah malam kami tiba di padang rumput alias savana Merbabu. Dan, kami bermalam di sana.
Cuaca yang tadinya cerah mendadak berubah mendekati subuh. Hujan turun dengan lebatnya disertai angin kencang. Bulir-bulir air pun menyusup masuk ke dalam tenda. Kantong tidur yang melindungi kami dari sergapan udara dingin akhirnya basah. Hujan baru reda ketika pagi sudah lewat tinggal menyisakan angin kencang dan kabut tebal yang menyerbu savana Merbabu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian ke Kenteng Songo, meski rasa kecewa lantaran rencana memakai toga di puncak Merbabu batal. Tapi, kami boleh dibilang beruntung. Soalnya, seorang pendaki tewas karena nekad menerobos badai dan kabut tebal guna mencapai puncak Merbabu. Berita ini saya dapat seminggu setelah pendakian yang gagal tersebut.
Kabar duka juga melesat dari Gunung Slamet. Sejumlah mahasiswa UGM tewas di gunung paling tinggi di Jawa Tengah tersebut. Menyusul kemudian berita duka dari Gunung Lawu. Dua pecinta alam juga meregang nyawa di sana. Dua pendaki lainnya tewas di gunung yang ada di Sulawesi. Tahun ini memang menjadi tahun duka bagi dunia pendakian Indonesia. Lebih dari 10 pendaki tewas dalam waktu yang bersamaan. Penyebabnya, cuaca buruk. Memang betul kata orang tua: Alam Bukan Untuk Dilawan
siang di kebayoran lama
Sebagai orang yang punya hobi naik gunung, saya punya cara yang beda dan unik sebagai wujud syukur setelah berhasil menyabet gelar sarjana komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta delapan tahun lalu. Sebetulnya, ini juga menjadi tradisi bagi sebagian pendaki: memakai toga di puncak gunung. Dan, saya memilih puncak Merbabu yang bernama Kenteng Songo. Gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut (dpl) memang menjadi favorit saya. Ini kali ketiga saya mendaki gunung tersebut
Perjalanan saya menuju puncak gunung yang hidup berdampingan dengan Merapi tersebut di awal 2001 yang masih diguyur hujan ditemani adik dan dua teman. Cuaca cerah menemani pendakian kami dari Selo yang menjadi salah satu kaki Merbabu. Menjelang tengah malam kami tiba di padang rumput alias savana Merbabu. Dan, kami bermalam di sana.
Cuaca yang tadinya cerah mendadak berubah mendekati subuh. Hujan turun dengan lebatnya disertai angin kencang. Bulir-bulir air pun menyusup masuk ke dalam tenda. Kantong tidur yang melindungi kami dari sergapan udara dingin akhirnya basah. Hujan baru reda ketika pagi sudah lewat tinggal menyisakan angin kencang dan kabut tebal yang menyerbu savana Merbabu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian ke Kenteng Songo, meski rasa kecewa lantaran rencana memakai toga di puncak Merbabu batal. Tapi, kami boleh dibilang beruntung. Soalnya, seorang pendaki tewas karena nekad menerobos badai dan kabut tebal guna mencapai puncak Merbabu. Berita ini saya dapat seminggu setelah pendakian yang gagal tersebut.
Kabar duka juga melesat dari Gunung Slamet. Sejumlah mahasiswa UGM tewas di gunung paling tinggi di Jawa Tengah tersebut. Menyusul kemudian berita duka dari Gunung Lawu. Dua pecinta alam juga meregang nyawa di sana. Dua pendaki lainnya tewas di gunung yang ada di Sulawesi. Tahun ini memang menjadi tahun duka bagi dunia pendakian Indonesia. Lebih dari 10 pendaki tewas dalam waktu yang bersamaan. Penyebabnya, cuaca buruk. Memang betul kata orang tua: Alam Bukan Untuk Dilawan
siang di kebayoran lama
Langganan:
Postingan (Atom)