Dua tahun lalu
Dua anak manusia: pria dan wanita
Dua latar budaya: Jawa dan Bali
Dua agama: Katolik dan Hindu
Dua profesi: wartawan dan paramedis
Mengikat janji suci
Mereka tidak lagi dua melainkan satu
Dalam Upacara Pelepasan di Pura Keluarga, Tabanan, Bali pada 26 April 2006 dan
Dalam Sakramen Perkawinan di Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Jakarta pada 30 April 2006
Stepanus Sudarto Kurniawan dengan Brigitta Putu Yuliastini
Happy Our 2nd Wedding Anniversary
siang di kunciran
Rabu, 30 April 2008
Senin, 14 April 2008
KABUT KUNCIRAN
Subuh baru saja lewat. Tapi, gelap masih menyergap kawasan Kunciran, Tangerang, Kamis (10/4) lalu. Tak biasanya, sekawanan kabut menyerang wilayah yang menempel dengan Jakarta tersebut. Lumayan tebal sehingga mengurangi jarak pandang saya yang pagi itu sudah mesti beraktivitas keluar rumah. Saya mesti mengantar istri yang akan bertugas menjadi tim kesehatan dalam sebuah acara yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Memang tak biasa. Sebab, kalau pun karya surga tersebut menghampir Kunciran biasanya tak setebal itu. Juga tak biasa, lantaran kabut sepekat itu umumnya menyerbu kawasan pegunungan. Tapi, jujur senang banget kabut setebal itu datang ke daerah tempat tinggal saya. Apalagi, sudah lama tidak melihat kabut stebal itu setelah lama tidak bermain-main dengan alam. Entah itu untuk melakoni hobi mendaki gunung atau sekadar berkemah di kaki gunung.
Saya betul-betul rindu. Dan sedikit terobati dengan kehadiran kabut di Kunciran saat pagi belum sempurna itu, meski saya tidak tahu persis kapan dia datang karena tidak mengetuk pintu.
pagi di kunciran
Memang tak biasa. Sebab, kalau pun karya surga tersebut menghampir Kunciran biasanya tak setebal itu. Juga tak biasa, lantaran kabut sepekat itu umumnya menyerbu kawasan pegunungan. Tapi, jujur senang banget kabut setebal itu datang ke daerah tempat tinggal saya. Apalagi, sudah lama tidak melihat kabut stebal itu setelah lama tidak bermain-main dengan alam. Entah itu untuk melakoni hobi mendaki gunung atau sekadar berkemah di kaki gunung.
Saya betul-betul rindu. Dan sedikit terobati dengan kehadiran kabut di Kunciran saat pagi belum sempurna itu, meski saya tidak tahu persis kapan dia datang karena tidak mengetuk pintu.
pagi di kunciran
Selasa, 18 Maret 2008
SEVEN SUMMIT

Torehan sejarah dalam jagad pendakian gunung siap digores Indonesia lewat Franky Kowaas. “Ekspedisi Indonesia Mendaki Tujuh Puncak Tertinggi di Tujuh Benua” bakal mengantarkan Indonesia menjadi negara ke 34 yang berhasil menaklukkan atap-atap dunia tersebut. Adapun Franky akan menjadi pendaki ke 109 yang sukses menjejakkan kaki di Seven Summit itu.
Ketujuh puncak yang menjulang ke angkasa tersebut, yakni Everest (Nepal), Aconcagua (Argentina), McKinley/Denali (Alaska), Kilimanjaro (Tanzania), Elbrus (Rusia), Vinson Massif (Ellsworth Range), dan Carstensz Pyramid (Indonesia). Rencananya ekspedisi tersebut akan dimulai Maret 2008 dan berakhir September 2009. Puncak pertama yang akan coba ditaklukan Franky yaitu Kilimanjaro.
Delapan tahun lalu, saya bersama teman-teman dari Mahapati Adventure Team pernah melakukan Ekspedisi Agung – Rinjani. Puncak Gunung Agung setinggi 3.142 meter yang menjilat langit Bali merupakan tanah tertinggi di Pulau Dewata. Sedangkan Puncak Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter adalah atap tertinggi di Pulau Lombok. Sayang, saya batal meneruskan ekspedisi ke Rinjani usai mencium Puncak Gunung Agung lantaran diminta kembali ke Jogja untuk urusan keluarga. Penyesalan batal mendaki Rinjani yang terkenal dengan Segara Anakan yang di tengah-tengahnya menyembul anak Rinjani masih terbawa sampai sekarang. Saya mencoba mengulang ekspedisi itu lima tahun lalu, tapi lagi-lagi batal. Entah kapan saya bisa mencapai tanah tertinggi di Pulau Lombok tersebut. Tinggal ini impian dalam jagad pendakian saya.
Ketujuh puncak yang menjulang ke angkasa tersebut, yakni Everest (Nepal), Aconcagua (Argentina), McKinley/Denali (Alaska), Kilimanjaro (Tanzania), Elbrus (Rusia), Vinson Massif (Ellsworth Range), dan Carstensz Pyramid (Indonesia). Rencananya ekspedisi tersebut akan dimulai Maret 2008 dan berakhir September 2009. Puncak pertama yang akan coba ditaklukan Franky yaitu Kilimanjaro.
Delapan tahun lalu, saya bersama teman-teman dari Mahapati Adventure Team pernah melakukan Ekspedisi Agung – Rinjani. Puncak Gunung Agung setinggi 3.142 meter yang menjilat langit Bali merupakan tanah tertinggi di Pulau Dewata. Sedangkan Puncak Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter adalah atap tertinggi di Pulau Lombok. Sayang, saya batal meneruskan ekspedisi ke Rinjani usai mencium Puncak Gunung Agung lantaran diminta kembali ke Jogja untuk urusan keluarga. Penyesalan batal mendaki Rinjani yang terkenal dengan Segara Anakan yang di tengah-tengahnya menyembul anak Rinjani masih terbawa sampai sekarang. Saya mencoba mengulang ekspedisi itu lima tahun lalu, tapi lagi-lagi batal. Entah kapan saya bisa mencapai tanah tertinggi di Pulau Lombok tersebut. Tinggal ini impian dalam jagad pendakian saya.
sore di kebayoran lama
Kamis, 14 Februari 2008
SATU BINTANG
Satu dari yang saya suka ketika mendaki gunung adalah bisa melihat langit yang bertabur kerlap-kerlip jutaan bintang. Tapi, tak jarang angkasa tanpa pesan sama sekali. Hanya satu bintang di langit kelam. Kemudian menghilang begitu buliran hujan mulai menghujam bumi. Itu yang terjadi sewaktu mendaki Gede, Merbabu, Sumbing, Semeru dan Lawu.
Meminjam syair Rida Sita Dewi: Satu Bintang di Langit Kelam
Angkasa tanpa pesan merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu kumenanti cemas
Kau datang dengan sederhana
Satu bintang dilangit kelam
Sinarmu rimba pesona dan kutahu tlah tersesat
Kukejar kau takkan bertepi
Menggapaimu takkan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku
Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam
Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan
Namun tak kau sadari hingga kini dan nanti
SELAMAT HARI RAYA KASIH SAYANG
malam di kebayoran lama
Meminjam syair Rida Sita Dewi: Satu Bintang di Langit Kelam
Angkasa tanpa pesan merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu kumenanti cemas
Kau datang dengan sederhana
Satu bintang dilangit kelam
Sinarmu rimba pesona dan kutahu tlah tersesat
Kukejar kau takkan bertepi
Menggapaimu takkan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku
Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam
Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan
Namun tak kau sadari hingga kini dan nanti
SELAMAT HARI RAYA KASIH SAYANG
malam di kebayoran lama
Minggu, 03 Februari 2008
ARYA (1)
16 Februari nanti, persisnya 13 hari lagi, pangeran kecilku, buah cintaku dengan Brigitta Putu Yuliastini, bakal genap setahun umurnya.
Nama lengkapnya lumayan panjang: Akhiles Raditya Arya Pradipta Kurniawan
Arya merupakan pemberian Kakek dan Neneknya (alm) di Bali. Katanya, biar ada nama Bali-nya.
Adapun Raditya dan Pradipta berasal dari saya dan istri yang artinya Matahari yang Memberi Sinar Kebaikan. Tentu dengan harapan, Arya, begitu biasa kami memanggilnya, bisa menjadi matahari yang membagi sinar kebaikan bagi sesama. Amin.
Nah, kalau Akhiles adalah nama baptis. Beliau adalah martir asal Afrika. Memilih Santo Akhiles, selain lantaran apa yang telah Dia perbuat, juga tak banyak orang yang memakai sebagai nama baptis.
SELAMAT ULANG TAHUN ARYA. Doa ayah dan bunda selalu menyertai. amin
sore di kunciran
Nama lengkapnya lumayan panjang: Akhiles Raditya Arya Pradipta Kurniawan
Arya merupakan pemberian Kakek dan Neneknya (alm) di Bali. Katanya, biar ada nama Bali-nya.
Adapun Raditya dan Pradipta berasal dari saya dan istri yang artinya Matahari yang Memberi Sinar Kebaikan. Tentu dengan harapan, Arya, begitu biasa kami memanggilnya, bisa menjadi matahari yang membagi sinar kebaikan bagi sesama. Amin.
Nah, kalau Akhiles adalah nama baptis. Beliau adalah martir asal Afrika. Memilih Santo Akhiles, selain lantaran apa yang telah Dia perbuat, juga tak banyak orang yang memakai sebagai nama baptis.
SELAMAT ULANG TAHUN ARYA. Doa ayah dan bunda selalu menyertai. amin
sore di kunciran
Jumat, 11 Januari 2008
RIP HILLARY

29 Mei 1953. Dua anak manusia: Edmund Hillary asal Selandia Baru dan Tenzing Norgay dari Nepal, menoreh sejarah baru. Mereka menjadi orang pertama yang menaklukkan Puncak Everest, tanah paling tinggi di dunia.
Tapi, kabar duka melesat dari Wellington. Hillary, hari ini, tutup usia di Auckland Hospital akibat serangan jantung. Dia akhirnya menyusul Norgay, yang lebih dulu pergi pada 1986 silam, pada usia 88 tahun.
Saya ingat betul dua pekan yang lalu baru saja menonton kembali perjuangan Hillary dan Norgay menjejakkan kaki di Everest lewat VCD berjudul Everest-50 Years on the Mountain (Surviving Everest) bikinan National Geographic, yang saya beli empat tahun yang lalu.
Hillary yang mendapat gelar kebangsawanan Inggris: Sir, sukses menaklukkan Sagarmatha yang dalam bahasa Nepal berarti Dewi Langit bersama Norgay lewat Ekspedisi Everest Inggris yang dikomandani Kolonel John Hunt.
Saya membayangkan bisa mengikuti jejak Hillary dan Norgay. Yang pasti menjadi semua impian semua pendaki. Terlalu muluk memang, tapi kalau cuma sekedar bermimpi saja boleh kan?
Tapi, kabar duka melesat dari Wellington. Hillary, hari ini, tutup usia di Auckland Hospital akibat serangan jantung. Dia akhirnya menyusul Norgay, yang lebih dulu pergi pada 1986 silam, pada usia 88 tahun.
Saya ingat betul dua pekan yang lalu baru saja menonton kembali perjuangan Hillary dan Norgay menjejakkan kaki di Everest lewat VCD berjudul Everest-50 Years on the Mountain (Surviving Everest) bikinan National Geographic, yang saya beli empat tahun yang lalu.
Hillary yang mendapat gelar kebangsawanan Inggris: Sir, sukses menaklukkan Sagarmatha yang dalam bahasa Nepal berarti Dewi Langit bersama Norgay lewat Ekspedisi Everest Inggris yang dikomandani Kolonel John Hunt.
Saya membayangkan bisa mengikuti jejak Hillary dan Norgay. Yang pasti menjadi semua impian semua pendaki. Terlalu muluk memang, tapi kalau cuma sekedar bermimpi saja boleh kan?
Selamat Jalan Hillary.
sore di kebayoran lama
sore di kebayoran lama
Rabu, 09 Januari 2008
SATU SURO
Tak ada pesta kembang api walau malam ini tahun berganti. Apalagi lengkingan suara terompet yang saling bersautan. Sama seperti ketika melewati malam-malam yang lain. Tidak ada kemeriahan menyambut tahun baru yang dalam kalender Islam jatuh besok. Atau, dalam penanggalan Jawa populer dengan sebutan Malam Satu Suro.
Eit, tapi coba tengok ke Gunung Lawu. Keramaian ada di gunung yang mengiris Jawa Tengah dan Jawa Timur itu. Ribuan orang, mulai yang masih bocah sampai lanjut usia, pria dan wanita tumpah ruah di gunung yang dikeramatkan tersebut.
Jalur Cemoro Sewu yang terletak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur menjadi rute favorit lantaran lebih pendek ketimbang Cemoro Kandang yang ada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Keduanya hanya dipisahkan jarak sekitar 200 meter saja.
Enam tahun yang lalu, saya ikut dalam kemeriahan Malam Satu Suro di Gunung Lawu. Saya mendaki bersama tiga rekan lewat Cemoro Sewu. Dua pendakian sebelumnya selalu naik dan turun dari Cemoro Kandang, tapi bukan saat Malam Satu Suro.
Usai hujan mengguyur kaki Lawu, sekitar jam sepuluh malam kami memulai pendakian. Begitu juga dengan ratusan pendaki atau peziarah lainnya. Peziarah? Ya, sebab saat Malam Suro memang kebanyakan yang naik Lawu ada orang-orang yang mau mengalap berkah.
Banyak tempat yang dikeramatkan di Lawu terutama Argo Dalem yang dipercaya sebagai tempat mukso atau menghilangnya Prabu Brawijaya V. Trus ada Sendang Drajat, sumber mata air yang disebut-sebut sebagai tempat mandi Raja Majapahit itu.
Tapi, pendakian kali ini betul-betul crowded. Yang naik dan turun sama banyaknya. Lantaran jalurnya yang sempit kami harus bergantian. Memberi kesempatan buat yang turun dulu baru melangkah. Jadi agak melelahkan karena mesti banyak berhenti.
Uniknya, di setiap pos yang dilalui banyak orang yang membuka lapak buat berdagang makanan. Bahkan, di puncak Lawu yang dikenal dengan Argo Dumilah yang berada di ketinggian 3.654 meter sekalipun. Jadi, sebetulnya kalau mau mendaki saat Malam Satu Suro cukup lenggang kangkung saja. Tak perlu menggendong ransel yang gede-gede.
Kelelahan pun langsung menyergap saya. Maklum malam sebelumnya tidak bisa tertidur lelap di dalam kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Jogja. Istirahat sebentar, saya dan tiga teman yang sudah menunggu di Kota Gudeg itu langsung bertolak ke Lawu.
Tapi, tak ada sejengkal tanah pun buat kami buat mendirikan tenda. Semua pos yang memiliki tanah lapang sudah dikuasai lapak para pedagang. Nggak heran, banyak pendaki yang juga kelelahan memilih tidur di pinggir jalur pendakian. Begitu juga akhirnya dengan kami.
Sebetulnya, bukan Lawu saja yang ramai saat Malam Satu Suro. Gunung Merapi dan Gunung Sindoro juga. Tapi, tidak seramai di Lawu. Apalagi sampai ada pedagang yang rela memanggul dagangannya hingga puncak. Maklum, saya juga pernah mendaki Merapi saat Malam Satu Suro yang waktu itu bikin bulu kuduk bergidik.
malam di kebayoran lama
Eit, tapi coba tengok ke Gunung Lawu. Keramaian ada di gunung yang mengiris Jawa Tengah dan Jawa Timur itu. Ribuan orang, mulai yang masih bocah sampai lanjut usia, pria dan wanita tumpah ruah di gunung yang dikeramatkan tersebut.
Jalur Cemoro Sewu yang terletak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur menjadi rute favorit lantaran lebih pendek ketimbang Cemoro Kandang yang ada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Keduanya hanya dipisahkan jarak sekitar 200 meter saja.
Enam tahun yang lalu, saya ikut dalam kemeriahan Malam Satu Suro di Gunung Lawu. Saya mendaki bersama tiga rekan lewat Cemoro Sewu. Dua pendakian sebelumnya selalu naik dan turun dari Cemoro Kandang, tapi bukan saat Malam Satu Suro.
Usai hujan mengguyur kaki Lawu, sekitar jam sepuluh malam kami memulai pendakian. Begitu juga dengan ratusan pendaki atau peziarah lainnya. Peziarah? Ya, sebab saat Malam Suro memang kebanyakan yang naik Lawu ada orang-orang yang mau mengalap berkah.
Banyak tempat yang dikeramatkan di Lawu terutama Argo Dalem yang dipercaya sebagai tempat mukso atau menghilangnya Prabu Brawijaya V. Trus ada Sendang Drajat, sumber mata air yang disebut-sebut sebagai tempat mandi Raja Majapahit itu.
Tapi, pendakian kali ini betul-betul crowded. Yang naik dan turun sama banyaknya. Lantaran jalurnya yang sempit kami harus bergantian. Memberi kesempatan buat yang turun dulu baru melangkah. Jadi agak melelahkan karena mesti banyak berhenti.
Uniknya, di setiap pos yang dilalui banyak orang yang membuka lapak buat berdagang makanan. Bahkan, di puncak Lawu yang dikenal dengan Argo Dumilah yang berada di ketinggian 3.654 meter sekalipun. Jadi, sebetulnya kalau mau mendaki saat Malam Satu Suro cukup lenggang kangkung saja. Tak perlu menggendong ransel yang gede-gede.
Kelelahan pun langsung menyergap saya. Maklum malam sebelumnya tidak bisa tertidur lelap di dalam kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Jogja. Istirahat sebentar, saya dan tiga teman yang sudah menunggu di Kota Gudeg itu langsung bertolak ke Lawu.
Tapi, tak ada sejengkal tanah pun buat kami buat mendirikan tenda. Semua pos yang memiliki tanah lapang sudah dikuasai lapak para pedagang. Nggak heran, banyak pendaki yang juga kelelahan memilih tidur di pinggir jalur pendakian. Begitu juga akhirnya dengan kami.
Sebetulnya, bukan Lawu saja yang ramai saat Malam Satu Suro. Gunung Merapi dan Gunung Sindoro juga. Tapi, tidak seramai di Lawu. Apalagi sampai ada pedagang yang rela memanggul dagangannya hingga puncak. Maklum, saya juga pernah mendaki Merapi saat Malam Satu Suro yang waktu itu bikin bulu kuduk bergidik.
malam di kebayoran lama
Langganan:
Postingan (Atom)