Kamis, 12 Maret 2009

ANYER 10 MARET


Melewati hari-hari di bulan ketiga tahun ini, jadi ingat sama lagunya Slank: Anyer 10 Maret. Apalagi, gue suka banget sama pantai, selain gunung tentunya. Pokoknya, yang berbau alam bebas.
Bulan lalu lalu habis ke Tanjung Lesung yang bertetangga dengan Anyer sama anak istri. Lokasinya, sekitar tiga jam perjalanan darat lewat Pandeglang. Di sana ada resort yang bagus banget. Jadi, ceritanya pengusaha asal Australia yang patungan dengan orang kaya Indonesia mau bikin Bali kedua di Tanjung Lesung.

Oh ya, ini syair Anyer 10 Maret:

Malam ini Kembali sadari aku sendiri
Gelap ini kembali sadari engkau telah pergi
Malam ini kata hati harus terpenuhi
Gelap ini kata hati ingin kau kembali
Hembus dinginnya angin lautan
Tak hilang ditelan bergelas-gelas arak
Yang kutenggakkan…

Malam ini ku bernyanyi lepas isi hati
Gelap ini ku ucap berjuta kata maki
Malam ini bersama bulan aku menari
Gelap ini di tepi pantai aku menangis
Tanpa dirimu dekat dimataku
Aku bagai ikan tanpa air
Tanpa dirimu ada disisiku
Aku bagai hiu tanpa taring
Tanpa dirimu dekap dipelukku
Aku bagai pantai tanpa lautan
Kembalilah kasih…

malam di kebayoran lama

Senin, 09 Maret 2009

GEDE PANGRANGO (29)


6 Februari lalu, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango genap berusia 29 tahun. Gede Pangrango yang menggandeng Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada 1980 silam.
C.G.C. Reinwardt adalah orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede Pangrango. Dia adalah peneliti asal Belanda. Maklum taman nasional ini kaya akan keragaman tumbuhan dan satwa. Contoh, ada 251 jenis burung yang menghuni Gunung Gede Pangrango dari total 450 jenis burung yang terdapat di Pulau Jawa.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada 1997 silam. Dan, sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada 1995 lalu.
Bagi saya, Gede Pangrango punya arti khusus. Soalnya, gunung ini merupakan gunung pertama yang saya daki pada Agustus 1998 lalu. Dan, sampai sekarang menjadi gunung terakhir yang saya daki pada 2005 lalu. Juga, gunung yang paling sering saya daki karena saya sudah mendaki Gede Pangrango sebanyak empat kali.

malam di kebayoran lama

Senin, 16 Februari 2009

ARYA (2)








Hari ini, AKHILES RADITYA ARYA PRADIPTA KURNIAWAN genap berumur dua tahun.

Doa ayah dan bunda: semoga Arya tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan bisa membanggakan semua orang kelak. amin.

Selamat Ulang Tahun sayang.
malam di kunciran

Minggu, 15 Februari 2009

TANJAKAN CINTA


Kalau lagi Valentine begini jadi ingat sama Tanjakan Cinta yang menjadi bagian rute pendakian ke Puncak Mahameru. Tanjakan yang landai tapi panjang tersebut mendapat julukan Tanjakan Cinta lantaran mitos yang beredar di kalangan pendaki.
Katanya, kalau bisa melewati tanjakan yang letaknya ada di Ranu Kumbolo (Ranu artinya danau, sedang Kumbolo adalah Sapi) tanpa henti dan menoleh ke belakang, maka keinginan cintanya bakal terkabul. Mitos ini lahir dari kisah dua sejoli yang sudah tunangan yang mendaki Gunung Semeru.
Konon, waktu itu, si cowok melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara calon istrinya kepayahan naik tanjakan itu, cowok tadi cuma melihat dari atas sambil foto-foto. Naas, pendaki cewek ini tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas.
Saya sendiri tak berhasil melewati Tanjakan Cinta tanpa henti saat mendaki Semeru di Oktober 1999 lalu. Baru separo jalan sudah ngos-ngosan dan terpaksa berhenti untuk mengambil nafas.
Ya, dengan ransel segede gaban di punggung, naik Tanjakan Cinta bukan perkara gampang. Apalagi, pagi itu baru saja start untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Mahameru setinggi 3.676 meter setelah sempat bermalam di Ranu Kumbolo.

TO LOVE and TO BE LOVED
Selamat Hari Kasih Sayang

sore di kunciran

Rabu, 31 Desember 2008

TAON BAROE


Tinggal beberapa jam lagi tahun bakal berganti.

Selamat Tinggal 2008!
Selamat Datang 2009!


Empat tahun lalu, saya memilih menghabiskan malam pergantian tahun dengan mendaki Gunung Gede Pangrango setelah tahun sebelumnya hanya merayakan di kaki gunung yang punya dua puncak tersebut, yakni Gede dan Pangrango.
Saat itu, saya mendaki bersama adik dan paman lewat jalur Gunung Putri, Cipanas. Start dari Pos Gunung Putri sore hari di 30 Desember 2003. Dan, tiba di alun-alun barat Surya Kencana menjelang tengah malam. Kami pun bermalam di sana sambil menunggu pergantian tahun.
Sejak pagi hari di 31 Desember 2003 hujan terus-terusan mengguyur alun-alun Surya Kencana yang dipadati ratusan pendaki. Baru malamnya, hanya beberapa jam menjelang pergantian tahun hujan betul-betul berhenti dan saya tengah tertidur lelap.
Sampai akhirnya, suara ledakan kembang api dan petasan membangunkan saya tepat pukul 12 malam. Tak menyaka bakal ada pesta kembang api di Gunung Gede Pangrango. Ternyata, beberapa rombongan pendaki membawa kembang api dan petasan.
Malam pergantian tahun di Gunung Gede Pangrango pun menjadi meriah. Sekaligus, mengusir hawa dingin yang terus saja menusuk tulang. Sambil terucap dalam hati serangkaian doa syukur dan harapan boleh melangkah lagi di Tahun Baru.


siang di kebayoran lama


Senin, 08 Desember 2008

MIMPI RINJANI










Makin hari Arya makin menggemaskan saja. Oh ya, Arya itu putera pertama saya. Ya, boleh dibilang masih anak semata wayang. Tapi, bukan berarti saya dan istri tidak mau tambah lagi alias memberi adik buat Arya, lo.
Contoh Arya yang menggemaskan itu terjadi hari ini. Begitu tahu saya akan memenuhi janji membelikannya es krim, sontak dia berteriak horeee sambil bertepuk tangan girang. Saya tak menyangka, Arya yang usianya belum genap dua tahun bisa bersikap seperti itu.
Sebelumnya, saat menyaksikan televisi yang menayangkan gambar pom bensin, kontan dia bilang: “mau (p)unya (pom b) ensin bial (r maksudnya) kaya”. Entah dapat dari mana kata-kata dan pemikiran itu. Saya dan istri hanya bisa tertawa geli.
Kami juga bingung lantaran Arya sangat suka melihat pom bensin. Apalagi, kalau kami mampir ke sana. Setelah itu dia akan mengatakan: “da..da.. (sambil melambaikan tangan mungilnya), (b)esok lagi”.
Kalau saya dan Arya diberi umur panjang dan rezeki, saya berencana untuk mewujudkan cita-cita yang belum kesampaian untuk mendaki Gunung Rinjani bersamanya. Ya, paling tidak kalau dia sudah duduk di bangku SMA.
Rencananya, sih, saya akan menyewa porter sekaligus pemandu. Jadi, tidak perlu repot-repot menggendong ransel yang segede-gede gaban itu. Cukup bawa tas kecil saja yang isinya air minum, makanan ringan, kamera foto dan video. Semoga! Amin.


sore di kunciran

Rabu, 03 Desember 2008

PENCARI RUMPUT

Sebentar lagi Lebaran Haji. Persisnya, 8 Desember nanti. Jakarta dan sekitarnya kedatangan ribuan mungkin puluhan ribu “penghuni” baru yang bakal menetap untuk sementara waktu. Mereka adalah sapi, kerbau, kambing, dan domba yang akan menjadi kurban pada Hari raya Idul Adha.
Ini membetot memori saya sewaktu mendaki Gunung Merbabu. Bukan soal hewan ternak yang bakal menjadi kurban. Tapi, pencari rumput buat sapi perah yang banyak dipelihara warga yang tinggal di kaki Merbabu, khususnya daerah Selo, Jawa Tengah.
Saban melakukan pendakian ke gunung dengan tinggi 3.142 meter tersebut, saya selalu ketemu dengan para pencari rumput tersebut. Biasanya, mereka mencari rumput di padang savanna Merbabu yang berada di ketinggian lebih dari 2.700 meter. Sekitar satu atau dua jam lagi menuju Kenteng Songo, puncak tertinggi di Merbabu.
Biasanya, para pencari rumput itu memulai perjalanan ke padang savanna pagi-pagi buta. Mereka hanya butuh waktu dua jam ke sana. Sedang saya bisa enam sampai delapan jam. Para pencari rumput itu hanya berbekal satu botol minuman dan beberapa butir permen saja untuk melepas dahaga.
Sebelum tengah hari mereka sudah sampai di kaki Merbabu yang diambil dari kata Meru yang artinya Gunung dan Babu yang berarti Wanita. Sekeranjang besar penuh rumput yang beratnya bisa di atas 20 kilo yang ditaruh di atas kepala mereka bawa turun.

Saya kagum dengan mereka. Betul-betul perkasa dan hebat.

malam di kebayoran lama