Senin, 08 Desember 2008

MIMPI RINJANI










Makin hari Arya makin menggemaskan saja. Oh ya, Arya itu putera pertama saya. Ya, boleh dibilang masih anak semata wayang. Tapi, bukan berarti saya dan istri tidak mau tambah lagi alias memberi adik buat Arya, lo.
Contoh Arya yang menggemaskan itu terjadi hari ini. Begitu tahu saya akan memenuhi janji membelikannya es krim, sontak dia berteriak horeee sambil bertepuk tangan girang. Saya tak menyangka, Arya yang usianya belum genap dua tahun bisa bersikap seperti itu.
Sebelumnya, saat menyaksikan televisi yang menayangkan gambar pom bensin, kontan dia bilang: “mau (p)unya (pom b) ensin bial (r maksudnya) kaya”. Entah dapat dari mana kata-kata dan pemikiran itu. Saya dan istri hanya bisa tertawa geli.
Kami juga bingung lantaran Arya sangat suka melihat pom bensin. Apalagi, kalau kami mampir ke sana. Setelah itu dia akan mengatakan: “da..da.. (sambil melambaikan tangan mungilnya), (b)esok lagi”.
Kalau saya dan Arya diberi umur panjang dan rezeki, saya berencana untuk mewujudkan cita-cita yang belum kesampaian untuk mendaki Gunung Rinjani bersamanya. Ya, paling tidak kalau dia sudah duduk di bangku SMA.
Rencananya, sih, saya akan menyewa porter sekaligus pemandu. Jadi, tidak perlu repot-repot menggendong ransel yang segede-gede gaban itu. Cukup bawa tas kecil saja yang isinya air minum, makanan ringan, kamera foto dan video. Semoga! Amin.


sore di kunciran

Rabu, 03 Desember 2008

PENCARI RUMPUT

Sebentar lagi Lebaran Haji. Persisnya, 8 Desember nanti. Jakarta dan sekitarnya kedatangan ribuan mungkin puluhan ribu “penghuni” baru yang bakal menetap untuk sementara waktu. Mereka adalah sapi, kerbau, kambing, dan domba yang akan menjadi kurban pada Hari raya Idul Adha.
Ini membetot memori saya sewaktu mendaki Gunung Merbabu. Bukan soal hewan ternak yang bakal menjadi kurban. Tapi, pencari rumput buat sapi perah yang banyak dipelihara warga yang tinggal di kaki Merbabu, khususnya daerah Selo, Jawa Tengah.
Saban melakukan pendakian ke gunung dengan tinggi 3.142 meter tersebut, saya selalu ketemu dengan para pencari rumput tersebut. Biasanya, mereka mencari rumput di padang savanna Merbabu yang berada di ketinggian lebih dari 2.700 meter. Sekitar satu atau dua jam lagi menuju Kenteng Songo, puncak tertinggi di Merbabu.
Biasanya, para pencari rumput itu memulai perjalanan ke padang savanna pagi-pagi buta. Mereka hanya butuh waktu dua jam ke sana. Sedang saya bisa enam sampai delapan jam. Para pencari rumput itu hanya berbekal satu botol minuman dan beberapa butir permen saja untuk melepas dahaga.
Sebelum tengah hari mereka sudah sampai di kaki Merbabu yang diambil dari kata Meru yang artinya Gunung dan Babu yang berarti Wanita. Sekeranjang besar penuh rumput yang beratnya bisa di atas 20 kilo yang ditaruh di atas kepala mereka bawa turun.

Saya kagum dengan mereka. Betul-betul perkasa dan hebat.

malam di kebayoran lama

Selasa, 02 Desember 2008

MUSIM HUJAN

Hujan mulai sering menyapa Jakarta dan sekitarnya. Kadang dibarengi angin kencang dan petir yang menyambar. Sehabis itu tamu lainnya yang bernama banjir giliran datang mengetuk. Yang menyenangkan kota ini dan tetangganya jadi lebih adem memang.
Tapi, naik gunung di musim penghujan jelas menjadi beban tambahan. Pendakian jadi terasa berat. Tapi, saat mendaki Gunung Merbabu di Oktober 1998, saya bersama tiga rekan lainnya mesti mengawali pendakian di tengah guyuran hujan lebat.
Kami terpaksa, setelah menunggu sampai tengah malam di desa terakhir hujan tak kunjung mereda. Justru makin lebat. Pilihannya: mendaki atau tidak sama sekali. Maklum, Minggu malam kami sudah harus ada di Jogja lantaran salah satu teman ada kuliah pagi yang tidak bisa ditinggal.
Brrr… dingin banget. Ponco yang saya pakai tak bisa melindungi semua bagian tubuh. Sebagian baju dan celana pun basah kuyup. Pendakian makin berat karena jalur yang kami lewati sangat licin akibat siraman air hujan. Ngos-ngosan kalau pas jalannya menanjak.
Empat jam mendaki saya menyerah. Tak kuat lagi meski hujan sudah betul-betul berhenti. Saya meminta teman untuk bermalam dan mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Malam itu kami bermalam di punggung Merbabu, empat jam lagi menuju puncak.
Merbabu bukan yang pertama dan terakhir. Beberapa kali saya mendaki di tengah guyuran air hujan. Ketika mendaki Gunung Semeru di Oktober 1999, misalnya. Tangan saya sampai mati rasa waktu itu saking dinginnya. Setelah melahap sebatang coklat, tubuh sedikit menghangat.
Memang, ada baiknya mendaki gunung tidak saat musim penghujan. Apalagi, di bulan Januari dan Februari walau saya pernah melakoninya sewaktu mendaki Merbabu untuk ketiga kalinya. Tapi, tidak bisa sampai di puncak lantaran badai menyerang.


malam di kebayoran lama

Senin, 24 November 2008

PANTANGAN MENDAKI

Di sejumlah bioskop di Tanah Air sekarang lagi diputar film lokal berjudul: Pencarian Terakhir. Ceritanya, tentang pencarian pendaki yang hilang sewaktu sedang mendaki Gunung Sarangan. Film ini diangkat dari kisah nyata.
Ya, pendaki yang hilang memang selalu mewarnai jagad pendakian Indonesia. Ada yang ketemu dalam keaadaan hidup. Tak jarang pula dalam keadaan tewas. Bahkan, yang tidak ketemu sampai sekarang pun juga ada.
Selalu ada cerita yang mengiringi pendaki yang hilang. Biasanya, mereka melanggar kode etik dan aturan main. Contoh, tak kabur alias sombong atau berbicara dengan kata-kata tidak senonoh selama pendakian.
Semua gunung punya pantangan tersebut. Tapi, ada beberapa gunung yang punya larangan lainnya. Gunung Lawu, misalnya. Pendaki tidak boleh memakai atribut apapun yang berwarna hijau dan beberapa motif batik.
Satu lagi. Kalau petugas jaga melarang ada pendakian, biasanya karena alasan cuaca, sebaiknya ditaati. Boleh percaya atau tidak. Tapi, ada baiknya dan alangkah bijaknya mematuhi semua pantangan tersebut. Toh, tidak ada ruginya.
Selamat Mendaki!


sore di kebayoran lama

Selasa, 28 Oktober 2008

SINYAL BAGUS

Kalau lihat iklan di tivi sekarang, lagi gencar pariwara sinyal bagusss XL. Sampai-sampai posisi lagi di gunung sekali pun sinyal tetap ada. Jadi, silahturahmi nyambung terusss, tidak putusss.
Tapi, jauh sebelum XL promo sinyal bagusnya tahun ini. Saya sudah bisa melakukan panggilan melalui hape ketika mendaki Gunung Lawu di 2002 dan Gede di 2003. Memang, operatornya bukan XL tapi dari tetangga sebelah sekaligus pesaing utama.
Cuma, tidak semua tempat bisa menangkap sinyal, lo. Hanya kawasan di punggung bukit—begitu biasanya kami menyebutnya--saja yang bisa. Itu pun dengan catatan pemandangan di hadapannya adalah sebuah kota.
Sinyal, paling tidak buat saya, menjadi penting saat mendaki gunung. Utamanya sinyal radio. Maklum, radio menjadi satu-satunya hiburan dan menjadi teman tidur saat bermalam di gunung. Yang tidak kalah penting, membantu mengusir rasa takut, apalagi kalau teman sependakian sudah pada tidur semua.
Cuma, pernah kejadian saat bermalam di rumah pondokan di Ranu (Telaga) Kumbolo ketika mendaki Gunung Semeru sudah tidak ada radio yang siaran. Sebab, sudah jam satu malam. Tapi sialnya, belum juga bisa tidur. Kayaknya, gara-gara menegak obat flu dan penghilang pegal-pegal sekaligus sebelum mau tidur.
Sebetulnya, yang tidur di pondokan ada 11 orang termasuk saya. Hanya, tetap aja rasa takut datang menyergap. La, udah pada ngorok semua. Yang bikin tambah serem, sorenya seorang teman bercerita soal keangkeran Ranu Kumbolo.
Kadang soal sinyal radio ini juga bikin takjub. Contoh, saat bermalam di Puncak Hargo Dumilah, yang menjadi tanah tertinggi di Gunung Lawu (3.265 m), radio kecil saya menangkap siaran stasiun Radio Geronimo yang berlokasi di Jogja.
Tapi, pernah juga bikin bulu kuduk merinding. Waktu bermalam di Gunung Agung kami sayup-sayup mendengar suara musik. Padahal, kata bapak polisi di Pos Besakih, kami satu-satunya rombongan yang mendaki gunung tertinggi di Pulau Bali itu.
Ternyata, siangnya baru kami tahu ada rombongan lain yang lebih dulu mendaki Gunung Agung. Kami bertemu mereka di tengah perjalanan menuju puncak. Dan, suara musik tersebut berasal dari radio mereka yang tetap menyala ketika mereka turun gunung.

malam di kunciran

Jumat, 17 Oktober 2008

TANTE dan MAHAPATI








Pekan lalu, seorang teman yang dulu sama-sama bekerja sebagai reporter di Tempo News Room (TNR) mengirim surat elektronik lewat milis TNR-16. Isinya, foto-foto nostalgia awak kantor berita milik Kelompok Tempo Media. Beberapa di antaranya foto-foto kegitatan sebagian reporter TNR saat mendaki Gunung Gede pada Mei 2002 lalu.
Dari situlah kemudian lahir TANTE. Singkatan dari Tempo Adventure Team. Sengaja memilih kata tante lantaran genit dan lucu, meski sempat mendapat penolakan dari beberapa rekan. Sejak itu, aktivitas alam lain, seperti arum jeram, hiking dan berkemah, giat kami gelar. Contoh, arum jeram di Sungai Citarik, hiking ke Kawah Ratu, berkemah di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Lalu, berpetualang ke Badui dan Pulau Onrust.
Lantaran banyak anggota yang keluar dari TNR, sudah dua tahun belakangan kegiatan TANTE ke alam bebas terhenti.
Agak ke belakang, sewaktu kuliah di Jogja, saya dan beberapa teman kost membentuk kelompok pecinta alam MAHAPATI. Kalau yang ini singkatan dari Mahasiswa Patah Hati. Ceritanya, ketika itu saya dan seorang teman kost yang memang punya hobi naik gunung baru saja putus cinta. Supaya tidak sedih berlarut-larut, kami memutuskan mendaki Gunung Merbabu. Kalau nggak salah, sih, di bulan April 2000.
Di sana lah ide Mahapati lahir. Kami pun memakai gambar kepala seorang mahapati kerjaaan yang terinspirasi dari kartun Panji Koming bikinan Dwi Koen yang terbit saban Ahad di Kompas sebagai logo. Kemudian, membikin kaos yang kami pakai perdana ketika mendaki Gunung Agung.
Nasib MAHAPATI sama saja dengan TANTE. Begitu anggotanya lulus kuliah dan semuanya bekerja di luar Jogja, kegiatan MAHAPATI terhenti. Apalagi, anak-anak kost yang baru tidak ada yang punya hobi naik gunung.
Berharap suatu saat saya bisa lagi bernostalgia dengan TANTE dan MAHAPATI menjelajah alam bebas. Tidak sekadar nostalgia dengan melihat foto-foto jadul. Semoga!

malam di kunciran

Senin, 22 September 2008

MUSIM KERING

Musim kemarau yang tahun ini bakal molor hingga akhir November nanti mulai berulah. Sumber-sumber air yang ada di dalam perut bumi mulai menyusut. Buntutnya, sudah dua hari belakangan mesin pompa yang ada di rumah saya sudah tak sanggup lagi menyedot air, meski kedalaman sumur mencapai 30 meter. Maklum, bukan dari jenis jet pump.
Kerepotan pun melanda keluarga saya. Untuk urusan mandi, mencuci dan sebagainya saya mesti menumpang ke rumah sepupu. Untung jaraknya tak seberapa, cuma dua blok saja. Tak mau terus-terusan ribet, akhirnya, saya memutuskan untuk mengungsi sementara ke rumah orang tua di Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Ternyata, hujan deras yang dibarengi petir menggelegar yang dua pekan lalu mengguyur wilayah Kunciran, tempat tinggal saya, hanya merupakan selingan saja pada musim kemarau akibat anomali cuaca. Badan Meteorologi dan Geofiska (BMG) bilang musim hujan baru akan datang menyapa pada awal Desember mendatang. Padahal teorinya, musim kemarau sudah mesti pergi paling lambat akhir bulan ini.
Musim kemarau yang membuat sumber-sumber air kering tak bersisa juga pernah membuat repot saya dan sejumlah teman yang pada September 2000 lalu mendaki Gunung Lawu lewat jalur Cemoro Kandang, Jawa Tengah. Soalnya, kami berharap banyak pada sebuah mata air, sendang begitu warga setempat menyebut, yang lokasinya tak jauh dari Pos III. Letaknya, persis di pinggir jalur pendakian.
Kami terpaksa menelan pil pahit. Begitu sampai di sendang itu tak ada air tersisa. Ini di luar dugaan. Tak menyangka mata air yang dikeramatkan tersebut bakalan kering. Padahal, dari bawah kami tidak banyak membawa air. Tidak ada jalan lain, kami harus menghemat betul pemakaian air supaya cukup untuk perjalanan pulang.
Saya pun hanya bisa gigit jari. Padahal, sebelumnya sudah membayangkan bakalan meneguk segar dan dinginnya air dari sendang yang mirip kubangan dengan ukuran mini itu. Sumbernya dari balik semak belukar yang ada di belakangnya, mengalir perlahan mengikuti alur bukit. Pada pendakian sebelumnya di November 1999, saya sempat menenggak air dari sendang ini.


malam di kebayoran lama