Di sejumlah bioskop di Tanah Air sekarang lagi diputar film lokal berjudul: Pencarian Terakhir. Ceritanya, tentang pencarian pendaki yang hilang sewaktu sedang mendaki Gunung Sarangan. Film ini diangkat dari kisah nyata.
Ya, pendaki yang hilang memang selalu mewarnai jagad pendakian Indonesia. Ada yang ketemu dalam keaadaan hidup. Tak jarang pula dalam keadaan tewas. Bahkan, yang tidak ketemu sampai sekarang pun juga ada.
Selalu ada cerita yang mengiringi pendaki yang hilang. Biasanya, mereka melanggar kode etik dan aturan main. Contoh, tak kabur alias sombong atau berbicara dengan kata-kata tidak senonoh selama pendakian.
Semua gunung punya pantangan tersebut. Tapi, ada beberapa gunung yang punya larangan lainnya. Gunung Lawu, misalnya. Pendaki tidak boleh memakai atribut apapun yang berwarna hijau dan beberapa motif batik.
Satu lagi. Kalau petugas jaga melarang ada pendakian, biasanya karena alasan cuaca, sebaiknya ditaati. Boleh percaya atau tidak. Tapi, ada baiknya dan alangkah bijaknya mematuhi semua pantangan tersebut. Toh, tidak ada ruginya.
Selamat Mendaki!
sore di kebayoran lama
Senin, 24 November 2008
Selasa, 28 Oktober 2008
SINYAL BAGUS
Kalau lihat iklan di tivi sekarang, lagi gencar pariwara sinyal bagusss XL. Sampai-sampai posisi lagi di gunung sekali pun sinyal tetap ada. Jadi, silahturahmi nyambung terusss, tidak putusss.
Tapi, jauh sebelum XL promo sinyal bagusnya tahun ini. Saya sudah bisa melakukan panggilan melalui hape ketika mendaki Gunung Lawu di 2002 dan Gede di 2003. Memang, operatornya bukan XL tapi dari tetangga sebelah sekaligus pesaing utama.
Cuma, tidak semua tempat bisa menangkap sinyal, lo. Hanya kawasan di punggung bukit—begitu biasanya kami menyebutnya--saja yang bisa. Itu pun dengan catatan pemandangan di hadapannya adalah sebuah kota.
Sinyal, paling tidak buat saya, menjadi penting saat mendaki gunung. Utamanya sinyal radio. Maklum, radio menjadi satu-satunya hiburan dan menjadi teman tidur saat bermalam di gunung. Yang tidak kalah penting, membantu mengusir rasa takut, apalagi kalau teman sependakian sudah pada tidur semua.
Cuma, pernah kejadian saat bermalam di rumah pondokan di Ranu (Telaga) Kumbolo ketika mendaki Gunung Semeru sudah tidak ada radio yang siaran. Sebab, sudah jam satu malam. Tapi sialnya, belum juga bisa tidur. Kayaknya, gara-gara menegak obat flu dan penghilang pegal-pegal sekaligus sebelum mau tidur.
Sebetulnya, yang tidur di pondokan ada 11 orang termasuk saya. Hanya, tetap aja rasa takut datang menyergap. La, udah pada ngorok semua. Yang bikin tambah serem, sorenya seorang teman bercerita soal keangkeran Ranu Kumbolo.
Kadang soal sinyal radio ini juga bikin takjub. Contoh, saat bermalam di Puncak Hargo Dumilah, yang menjadi tanah tertinggi di Gunung Lawu (3.265 m), radio kecil saya menangkap siaran stasiun Radio Geronimo yang berlokasi di Jogja.
Tapi, pernah juga bikin bulu kuduk merinding. Waktu bermalam di Gunung Agung kami sayup-sayup mendengar suara musik. Padahal, kata bapak polisi di Pos Besakih, kami satu-satunya rombongan yang mendaki gunung tertinggi di Pulau Bali itu.
Ternyata, siangnya baru kami tahu ada rombongan lain yang lebih dulu mendaki Gunung Agung. Kami bertemu mereka di tengah perjalanan menuju puncak. Dan, suara musik tersebut berasal dari radio mereka yang tetap menyala ketika mereka turun gunung.
malam di kunciran
Tapi, jauh sebelum XL promo sinyal bagusnya tahun ini. Saya sudah bisa melakukan panggilan melalui hape ketika mendaki Gunung Lawu di 2002 dan Gede di 2003. Memang, operatornya bukan XL tapi dari tetangga sebelah sekaligus pesaing utama.
Cuma, tidak semua tempat bisa menangkap sinyal, lo. Hanya kawasan di punggung bukit—begitu biasanya kami menyebutnya--saja yang bisa. Itu pun dengan catatan pemandangan di hadapannya adalah sebuah kota.
Sinyal, paling tidak buat saya, menjadi penting saat mendaki gunung. Utamanya sinyal radio. Maklum, radio menjadi satu-satunya hiburan dan menjadi teman tidur saat bermalam di gunung. Yang tidak kalah penting, membantu mengusir rasa takut, apalagi kalau teman sependakian sudah pada tidur semua.
Cuma, pernah kejadian saat bermalam di rumah pondokan di Ranu (Telaga) Kumbolo ketika mendaki Gunung Semeru sudah tidak ada radio yang siaran. Sebab, sudah jam satu malam. Tapi sialnya, belum juga bisa tidur. Kayaknya, gara-gara menegak obat flu dan penghilang pegal-pegal sekaligus sebelum mau tidur.
Sebetulnya, yang tidur di pondokan ada 11 orang termasuk saya. Hanya, tetap aja rasa takut datang menyergap. La, udah pada ngorok semua. Yang bikin tambah serem, sorenya seorang teman bercerita soal keangkeran Ranu Kumbolo.
Kadang soal sinyal radio ini juga bikin takjub. Contoh, saat bermalam di Puncak Hargo Dumilah, yang menjadi tanah tertinggi di Gunung Lawu (3.265 m), radio kecil saya menangkap siaran stasiun Radio Geronimo yang berlokasi di Jogja.
Tapi, pernah juga bikin bulu kuduk merinding. Waktu bermalam di Gunung Agung kami sayup-sayup mendengar suara musik. Padahal, kata bapak polisi di Pos Besakih, kami satu-satunya rombongan yang mendaki gunung tertinggi di Pulau Bali itu.
Ternyata, siangnya baru kami tahu ada rombongan lain yang lebih dulu mendaki Gunung Agung. Kami bertemu mereka di tengah perjalanan menuju puncak. Dan, suara musik tersebut berasal dari radio mereka yang tetap menyala ketika mereka turun gunung.
malam di kunciran
Jumat, 17 Oktober 2008
TANTE dan MAHAPATI


Pekan lalu, seorang teman yang dulu sama-sama bekerja sebagai reporter di Tempo News Room (TNR) mengirim surat elektronik lewat milis TNR-16. Isinya, foto-foto nostalgia awak kantor berita milik Kelompok Tempo Media. Beberapa di antaranya foto-foto kegitatan sebagian reporter TNR saat mendaki Gunung Gede pada Mei 2002 lalu.
Dari situlah kemudian lahir TANTE. Singkatan dari Tempo Adventure Team. Sengaja memilih kata tante lantaran genit dan lucu, meski sempat mendapat penolakan dari beberapa rekan. Sejak itu, aktivitas alam lain, seperti arum jeram, hiking dan berkemah, giat kami gelar. Contoh, arum jeram di Sungai Citarik, hiking ke Kawah Ratu, berkemah di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Lalu, berpetualang ke Badui dan Pulau Onrust.
Lantaran banyak anggota yang keluar dari TNR, sudah dua tahun belakangan kegiatan TANTE ke alam bebas terhenti.
Agak ke belakang, sewaktu kuliah di Jogja, saya dan beberapa teman kost membentuk kelompok pecinta alam MAHAPATI. Kalau yang ini singkatan dari Mahasiswa Patah Hati. Ceritanya, ketika itu saya dan seorang teman kost yang memang punya hobi naik gunung baru saja putus cinta. Supaya tidak sedih berlarut-larut, kami memutuskan mendaki Gunung Merbabu. Kalau nggak salah, sih, di bulan April 2000.
Di sana lah ide Mahapati lahir. Kami pun memakai gambar kepala seorang mahapati kerjaaan yang terinspirasi dari kartun Panji Koming bikinan Dwi Koen yang terbit saban Ahad di Kompas sebagai logo. Kemudian, membikin kaos yang kami pakai perdana ketika mendaki Gunung Agung.
Nasib MAHAPATI sama saja dengan TANTE. Begitu anggotanya lulus kuliah dan semuanya bekerja di luar Jogja, kegiatan MAHAPATI terhenti. Apalagi, anak-anak kost yang baru tidak ada yang punya hobi naik gunung.
Dari situlah kemudian lahir TANTE. Singkatan dari Tempo Adventure Team. Sengaja memilih kata tante lantaran genit dan lucu, meski sempat mendapat penolakan dari beberapa rekan. Sejak itu, aktivitas alam lain, seperti arum jeram, hiking dan berkemah, giat kami gelar. Contoh, arum jeram di Sungai Citarik, hiking ke Kawah Ratu, berkemah di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Lalu, berpetualang ke Badui dan Pulau Onrust.
Lantaran banyak anggota yang keluar dari TNR, sudah dua tahun belakangan kegiatan TANTE ke alam bebas terhenti.
Agak ke belakang, sewaktu kuliah di Jogja, saya dan beberapa teman kost membentuk kelompok pecinta alam MAHAPATI. Kalau yang ini singkatan dari Mahasiswa Patah Hati. Ceritanya, ketika itu saya dan seorang teman kost yang memang punya hobi naik gunung baru saja putus cinta. Supaya tidak sedih berlarut-larut, kami memutuskan mendaki Gunung Merbabu. Kalau nggak salah, sih, di bulan April 2000.
Di sana lah ide Mahapati lahir. Kami pun memakai gambar kepala seorang mahapati kerjaaan yang terinspirasi dari kartun Panji Koming bikinan Dwi Koen yang terbit saban Ahad di Kompas sebagai logo. Kemudian, membikin kaos yang kami pakai perdana ketika mendaki Gunung Agung.
Nasib MAHAPATI sama saja dengan TANTE. Begitu anggotanya lulus kuliah dan semuanya bekerja di luar Jogja, kegiatan MAHAPATI terhenti. Apalagi, anak-anak kost yang baru tidak ada yang punya hobi naik gunung.
Berharap suatu saat saya bisa lagi bernostalgia dengan TANTE dan MAHAPATI menjelajah alam bebas. Tidak sekadar nostalgia dengan melihat foto-foto jadul. Semoga!
malam di kunciran
Senin, 22 September 2008
MUSIM KERING
Musim kemarau yang tahun ini bakal molor hingga akhir November nanti mulai berulah. Sumber-sumber air yang ada di dalam perut bumi mulai menyusut. Buntutnya, sudah dua hari belakangan mesin pompa yang ada di rumah saya sudah tak sanggup lagi menyedot air, meski kedalaman sumur mencapai 30 meter. Maklum, bukan dari jenis jet pump.
Kerepotan pun melanda keluarga saya. Untuk urusan mandi, mencuci dan sebagainya saya mesti menumpang ke rumah sepupu. Untung jaraknya tak seberapa, cuma dua blok saja. Tak mau terus-terusan ribet, akhirnya, saya memutuskan untuk mengungsi sementara ke rumah orang tua di Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Ternyata, hujan deras yang dibarengi petir menggelegar yang dua pekan lalu mengguyur wilayah Kunciran, tempat tinggal saya, hanya merupakan selingan saja pada musim kemarau akibat anomali cuaca. Badan Meteorologi dan Geofiska (BMG) bilang musim hujan baru akan datang menyapa pada awal Desember mendatang. Padahal teorinya, musim kemarau sudah mesti pergi paling lambat akhir bulan ini.
Musim kemarau yang membuat sumber-sumber air kering tak bersisa juga pernah membuat repot saya dan sejumlah teman yang pada September 2000 lalu mendaki Gunung Lawu lewat jalur Cemoro Kandang, Jawa Tengah. Soalnya, kami berharap banyak pada sebuah mata air, sendang begitu warga setempat menyebut, yang lokasinya tak jauh dari Pos III. Letaknya, persis di pinggir jalur pendakian.
Kami terpaksa menelan pil pahit. Begitu sampai di sendang itu tak ada air tersisa. Ini di luar dugaan. Tak menyangka mata air yang dikeramatkan tersebut bakalan kering. Padahal, dari bawah kami tidak banyak membawa air. Tidak ada jalan lain, kami harus menghemat betul pemakaian air supaya cukup untuk perjalanan pulang.
Saya pun hanya bisa gigit jari. Padahal, sebelumnya sudah membayangkan bakalan meneguk segar dan dinginnya air dari sendang yang mirip kubangan dengan ukuran mini itu. Sumbernya dari balik semak belukar yang ada di belakangnya, mengalir perlahan mengikuti alur bukit. Pada pendakian sebelumnya di November 1999, saya sempat menenggak air dari sendang ini.
malam di kebayoran lama
Kerepotan pun melanda keluarga saya. Untuk urusan mandi, mencuci dan sebagainya saya mesti menumpang ke rumah sepupu. Untung jaraknya tak seberapa, cuma dua blok saja. Tak mau terus-terusan ribet, akhirnya, saya memutuskan untuk mengungsi sementara ke rumah orang tua di Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Ternyata, hujan deras yang dibarengi petir menggelegar yang dua pekan lalu mengguyur wilayah Kunciran, tempat tinggal saya, hanya merupakan selingan saja pada musim kemarau akibat anomali cuaca. Badan Meteorologi dan Geofiska (BMG) bilang musim hujan baru akan datang menyapa pada awal Desember mendatang. Padahal teorinya, musim kemarau sudah mesti pergi paling lambat akhir bulan ini.
Musim kemarau yang membuat sumber-sumber air kering tak bersisa juga pernah membuat repot saya dan sejumlah teman yang pada September 2000 lalu mendaki Gunung Lawu lewat jalur Cemoro Kandang, Jawa Tengah. Soalnya, kami berharap banyak pada sebuah mata air, sendang begitu warga setempat menyebut, yang lokasinya tak jauh dari Pos III. Letaknya, persis di pinggir jalur pendakian.
Kami terpaksa menelan pil pahit. Begitu sampai di sendang itu tak ada air tersisa. Ini di luar dugaan. Tak menyangka mata air yang dikeramatkan tersebut bakalan kering. Padahal, dari bawah kami tidak banyak membawa air. Tidak ada jalan lain, kami harus menghemat betul pemakaian air supaya cukup untuk perjalanan pulang.
Saya pun hanya bisa gigit jari. Padahal, sebelumnya sudah membayangkan bakalan meneguk segar dan dinginnya air dari sendang yang mirip kubangan dengan ukuran mini itu. Sumbernya dari balik semak belukar yang ada di belakangnya, mengalir perlahan mengikuti alur bukit. Pada pendakian sebelumnya di November 1999, saya sempat menenggak air dari sendang ini.
malam di kebayoran lama
Sabtu, 13 September 2008
THAILAND MENDIDIH


Kondisi politik Thailand yang saat ini sedang mendidih menarik memori saya kembali ke dua tahun yang lalu. Kala itu, situasi politik di Negeri Gajah Putih juga sedang memanas. Militer di bawah pimpinan bekas Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Sonthi Boonyaratglin mendongkel kekuasaan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra hingga menyeret Thailand ke dalam krisis politik.
Thaksin yang sedang berada di London digulingkan lewat kudeta tidak berdarah pada Selasa malam di 19 September 2006. Saya yang waktu itu masih menjadi wartawan TEMPO (sekarang wartawan KONTAN) mengikuti betul perkembangan yang terjadi sebelum dan pascaperebutan kekuasaan tersebut. Bukan kebetulan semata. Soalnya, ketika itu saya mengawangi desk internasional.
Thailand bisa dibilang negeri kudeta. Raja Bhumibol Adulyadej adalah orang yang paling kenyang untuk urusan rebut-merebut kekuasaan ini. Bagaimana tidak? Sejak dia naik takhta pada 1946 silam, sudah terjadi 18 kali kudeta militer. Justru yang terbanyak militer mengkudeta rezim militer.
Panggung politik Thailand juga tak lepas dari campur tangan Raja yang naik takhta sejak usia 19 tahun--menggantikan sang kakak yang mati secara misterius di kamarnya--itu. Peran Bhumibol ini yang membuat sebagian rakyat Thailand merasa adem begitu perebutan kekuasaan secara paksa terjadi lagi. “Semuanya baik-baik saja karena kami punya seorang raja,” kata mereka.
Ini yang buat Thailand beda. Monarki di seluruh dunia mesti berjuang keras memelihara atau bahkan mendapatkan cinta dan kesetiaan rakyatnya. Bagi warga Thailand, Raja Bhumibol ada di hati mereka. Kepemimpinannya yang telah 62 tahun menjadikan Bhumibol raja terlama di dunia saat ini. Tapi dia tetap rendah hati. "Pepatah bahwa raja tidak mungkin berbuat salah, itu adalah penghinaan. Itu berarti raja bukan manusia. Saya bisa berbuat salah," ujar Bhumibol.
Kudeta militer yang terjadi dua tahun lalu itu yang kemudian membawa saya terbang ke Thailand. Tapi sebetulnya, perjalanan ini sudah sangat terlambat. Perebutan kekuasaan dari tangan Thaksin yang sangat popular di akar rumput—sama persis dengan rezim Soeharto—sudah terjadi dua pekan sebelumnya. Maklum, liputan ini atas undangan Otoritas Pariwisata Thailand, yang kepingin menunjukan negaranya aman-aman saja walau kudeta militer mengguncang.
Dan, betul saja. Tidak ada lagi jejak-jejak kudeta. Tank-tank militer yang tadinya unjuk gigi di pusat Kota Bangkok sudah kembali ke barak. Begitu juga tentara dengan senjata lengkap yang semula berjaga di segala penjuru ibukota. Kehidupan kembali normal di Thailand. Pun dunia pariwisatanya.
Junta militer di bawah pimpinan Jenderal Sonthi yang Islam itu lantas menunjuk Surayud Chulanont, bekas Kepala Staf Angkatan Darat, sebagai Perdana Menteri Thailand yang baru. Penujukan Surayud yang pernah menjadi penasihat raja tersebut juga atas restu Raja Bhumibol.
Beruntung saya bisa bertemu langsung dengan Surayud dalam sebuah wawancara khusus di sela-sela kunjungan kerjanya ke Indonesia pada pertengahan Oktober 2006. Ini kali pertama saya melakukan wawancara khusus dengan seorang kepala pemerintahan. Yang kedua, dengan Perdana Menteri Timor Leste Jose Manuel Ramos Horta yang sekarang menjadi Presiden.
Surayud yang sederhana, orang yang tepat janji. “Begitu pemerintahan baru terbentuk, saya akan bilang, "Selamat tinggal (politik)". Sebab, saya tidak ingin terlibat dalam politik lagi,” katanya dalam wawancara dengan TEMPO. Dan, dia membuktikan janjinya itu setahun kemudian, selepas pemilihan umum yang dimenangkan Partai Kekuatan Rakyat yang merupakan jelmaan Thai Rak Thai, partai bentukan Thaksin yang dibubarkan pemerintahan Surayud.
Samak Sundaravej kemudian duduk di kursi Perdana Menteri yang ditinggalkan Surayud. Belum genap setahun memerintah Thailand, dia sudah digoyang. Aliansi Rakyat untuk Demokrasi—kelompok yang dulu juga mendesak Thaksin lengser—menuntut Samak mundur lantaran berniat mengubah konstitusi lewat referendum.
Beda dengan dua tahun yang lalu, militer bersumpah tidak bakal mengkudeta Samak. Tapi, akhirnya Samak jatuh juga. Gara-garanya, sepele: menjadi pembawa acara masak-memasak di televisi, program yang dulu dia pernah pandu sebelum menjadi orang nomor satu di pemerintahan di negara yang dulu bernama Siam ini. Mahkamah Konstitusi Thailand memerintahkan Samak meletakkan jabatannya setelah terbukti bersalah melanggar konstitusi.
Begitulah Thailand, negara yang pernah membawa kenangan manis buat saya. Yang bakal selalu membetot memori saya kalau kondisi politik di negara yang terkenal paling demokratis tersebut sedang mendidih.
Thaksin yang sedang berada di London digulingkan lewat kudeta tidak berdarah pada Selasa malam di 19 September 2006. Saya yang waktu itu masih menjadi wartawan TEMPO (sekarang wartawan KONTAN) mengikuti betul perkembangan yang terjadi sebelum dan pascaperebutan kekuasaan tersebut. Bukan kebetulan semata. Soalnya, ketika itu saya mengawangi desk internasional.
Thailand bisa dibilang negeri kudeta. Raja Bhumibol Adulyadej adalah orang yang paling kenyang untuk urusan rebut-merebut kekuasaan ini. Bagaimana tidak? Sejak dia naik takhta pada 1946 silam, sudah terjadi 18 kali kudeta militer. Justru yang terbanyak militer mengkudeta rezim militer.
Panggung politik Thailand juga tak lepas dari campur tangan Raja yang naik takhta sejak usia 19 tahun--menggantikan sang kakak yang mati secara misterius di kamarnya--itu. Peran Bhumibol ini yang membuat sebagian rakyat Thailand merasa adem begitu perebutan kekuasaan secara paksa terjadi lagi. “Semuanya baik-baik saja karena kami punya seorang raja,” kata mereka.
Ini yang buat Thailand beda. Monarki di seluruh dunia mesti berjuang keras memelihara atau bahkan mendapatkan cinta dan kesetiaan rakyatnya. Bagi warga Thailand, Raja Bhumibol ada di hati mereka. Kepemimpinannya yang telah 62 tahun menjadikan Bhumibol raja terlama di dunia saat ini. Tapi dia tetap rendah hati. "Pepatah bahwa raja tidak mungkin berbuat salah, itu adalah penghinaan. Itu berarti raja bukan manusia. Saya bisa berbuat salah," ujar Bhumibol.
Kudeta militer yang terjadi dua tahun lalu itu yang kemudian membawa saya terbang ke Thailand. Tapi sebetulnya, perjalanan ini sudah sangat terlambat. Perebutan kekuasaan dari tangan Thaksin yang sangat popular di akar rumput—sama persis dengan rezim Soeharto—sudah terjadi dua pekan sebelumnya. Maklum, liputan ini atas undangan Otoritas Pariwisata Thailand, yang kepingin menunjukan negaranya aman-aman saja walau kudeta militer mengguncang.
Dan, betul saja. Tidak ada lagi jejak-jejak kudeta. Tank-tank militer yang tadinya unjuk gigi di pusat Kota Bangkok sudah kembali ke barak. Begitu juga tentara dengan senjata lengkap yang semula berjaga di segala penjuru ibukota. Kehidupan kembali normal di Thailand. Pun dunia pariwisatanya.
Junta militer di bawah pimpinan Jenderal Sonthi yang Islam itu lantas menunjuk Surayud Chulanont, bekas Kepala Staf Angkatan Darat, sebagai Perdana Menteri Thailand yang baru. Penujukan Surayud yang pernah menjadi penasihat raja tersebut juga atas restu Raja Bhumibol.
Beruntung saya bisa bertemu langsung dengan Surayud dalam sebuah wawancara khusus di sela-sela kunjungan kerjanya ke Indonesia pada pertengahan Oktober 2006. Ini kali pertama saya melakukan wawancara khusus dengan seorang kepala pemerintahan. Yang kedua, dengan Perdana Menteri Timor Leste Jose Manuel Ramos Horta yang sekarang menjadi Presiden.
Surayud yang sederhana, orang yang tepat janji. “Begitu pemerintahan baru terbentuk, saya akan bilang, "Selamat tinggal (politik)". Sebab, saya tidak ingin terlibat dalam politik lagi,” katanya dalam wawancara dengan TEMPO. Dan, dia membuktikan janjinya itu setahun kemudian, selepas pemilihan umum yang dimenangkan Partai Kekuatan Rakyat yang merupakan jelmaan Thai Rak Thai, partai bentukan Thaksin yang dibubarkan pemerintahan Surayud.
Samak Sundaravej kemudian duduk di kursi Perdana Menteri yang ditinggalkan Surayud. Belum genap setahun memerintah Thailand, dia sudah digoyang. Aliansi Rakyat untuk Demokrasi—kelompok yang dulu juga mendesak Thaksin lengser—menuntut Samak mundur lantaran berniat mengubah konstitusi lewat referendum.
Beda dengan dua tahun yang lalu, militer bersumpah tidak bakal mengkudeta Samak. Tapi, akhirnya Samak jatuh juga. Gara-garanya, sepele: menjadi pembawa acara masak-memasak di televisi, program yang dulu dia pernah pandu sebelum menjadi orang nomor satu di pemerintahan di negara yang dulu bernama Siam ini. Mahkamah Konstitusi Thailand memerintahkan Samak meletakkan jabatannya setelah terbukti bersalah melanggar konstitusi.
Begitulah Thailand, negara yang pernah membawa kenangan manis buat saya. Yang bakal selalu membetot memori saya kalau kondisi politik di negara yang terkenal paling demokratis tersebut sedang mendidih.
dinihari di kebayoran lama
Selasa, 02 September 2008
TOPI RIMBA
Hari ini betul-betul apes. Gue harus kehilangan topi rimba yang selalu menemani pendakian ke gunung-gunung di Jawa dan Bali. Bahkan, penutup kepala berwarna hijau itu ikut juga dalam perjalanan gue ke Sulawesi Selatan awal bulan lalu ketika meliput kunjungan kerja dan wawancara khusus dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Ini semua cuma gara-gara keteledoran gue. Pas mau turun dari metro mini di Pasar Kebayoran Lama, entah kenapa gue lupa dengan topi rimba itu. Selama di dalam angkutan umum itu, gue sengaja melepas topi itu dari kepala lantaran gerah luar biasa. Topi tersebut gue taruh di atas tas yang ada di pangkuan. Mungkin karena buru-buru mau turun, gue jadi lupa.
Topi rimba itu pertama kali gue pakai waktu mendaki Gunung Sumbing yang terletak di Jawa Tengah pada pertengahan 1999 lalu. Ini kali ketiga gue mendaki gunung setelah Gede di pertengahan 1998 dan Merbabu di awal 1999. Jadi, umur pelindung kepala dari gigitan sinar matahari ketika mendaki di siang hari tersebut sudah sembilan tahun.
Yang bikin topi rimba merek EIGER ini istimewa, di bagian depan melekat label sepatu merek Adidas Enforcer. Alas kaki itu juga selalu menemani pendakian gue sebelum jebol ketika usai mendaki Semeru, tanah tertinggi di Jawa, pada Oktober 1999 lalu. Sepatunya aku tinggal di pos Ranu Kumbolo atau Danau Kumbolo yang terkenal dengan Tanjakan Cinta-nya.
siang di kebayoran lama
Ini semua cuma gara-gara keteledoran gue. Pas mau turun dari metro mini di Pasar Kebayoran Lama, entah kenapa gue lupa dengan topi rimba itu. Selama di dalam angkutan umum itu, gue sengaja melepas topi itu dari kepala lantaran gerah luar biasa. Topi tersebut gue taruh di atas tas yang ada di pangkuan. Mungkin karena buru-buru mau turun, gue jadi lupa.
Topi rimba itu pertama kali gue pakai waktu mendaki Gunung Sumbing yang terletak di Jawa Tengah pada pertengahan 1999 lalu. Ini kali ketiga gue mendaki gunung setelah Gede di pertengahan 1998 dan Merbabu di awal 1999. Jadi, umur pelindung kepala dari gigitan sinar matahari ketika mendaki di siang hari tersebut sudah sembilan tahun.
Yang bikin topi rimba merek EIGER ini istimewa, di bagian depan melekat label sepatu merek Adidas Enforcer. Alas kaki itu juga selalu menemani pendakian gue sebelum jebol ketika usai mendaki Semeru, tanah tertinggi di Jawa, pada Oktober 1999 lalu. Sepatunya aku tinggal di pos Ranu Kumbolo atau Danau Kumbolo yang terkenal dengan Tanjakan Cinta-nya.
siang di kebayoran lama
Jumat, 22 Agustus 2008
SATU DASAWARSA
Besok, tepat 10 tahun saya menjejakkan kaki untuk yang pertama kalinya di puncak Gunung Gede yang memiliki tinggi 2.958 meter. Keberhasilan itu yang kemudian memecut saya untuk mendaki gunung-gunung lainnya.
Ya, Gede memang menjadi titik awal. Bukan tanpa alasan saya memilih gunung yang terletak di Jawa Barat tersebut sebagai pendakian perdana. Ini berawal dari rasa tidak percaya diri saya melakoni kegiatan hiking: takut tidak kuat.
Maklum saja, mendaki gunung itu kan pekerjaan yang berat. Mesti melewati medan yang menanjak sambil menggendong ransel segede gaban yang pastinya berat banget. Jarak yang ditempuh minimal belasan kilometer. Siapa yang tahan?
Nah, kebetulan adik saya tercinta yang waktu itu masih duduk di bangku STM menjadi volunteer Gede Pangrango Operation (GPO), yang bertugas di jalur pendakian Gunung Putri, Cipanas. Jadilah, saya memulai pendakian perdana pada 23 Agustus 1998 lalu.
Toh, kalau tidak kuat sehingga tak bisa mencapai puncak, no problem. Adik saya pasti mengerti sehingga tidak perlu melanjutkan perjalanan hingga puncak. Beda kalau dengan teman, wah, bisa bikin mereka kecewa berat.
Pendakian ke Gede itu bisa dibilang pendakian keluarga. Soalnya, selain saya dan adik, ada kakak, calon kakak ipar, dua sepupu dan dua paman. Total jenderal, ada delapan orang. Dan, hanya dua orang yang pernah mendaki gunung: adik dan salah satu sepupu saya.
Menjelang sore kami mulai pendakian melewati jalur Cibodas. Awalnya, berat banget. Sampai ngos-ngosan dibuatnya. Tapi, pendakian berjalan lancar hingga kami sampai di Kandang Badak--titik yang membelah jalur ke Puncak Gede dan Pangrango--mendekati tengah malam. Dan, menginjakkan kaki di puncak Gede menjelang subuh.
Nggak menyangka, saya bisa menjejakkan kaki di puncak Gede dalam semalam. Sukses ini yang lantas mendorong saya untuk mendaki Gunung Merbabu beberapa bulan kemudian. Bahkan, selang waktu yang lama saya mendaki Gunung Sumbing dan Lawu.
Dan, menyusul gunung-gunung lainnya, termasuk Gunung Semeru yang merupakan atap tertinggi di Pulau Jawa, dan Gunung Agung, yang adalah tanah paling tinggi di Pulau Bali. Semuanya ada 10 gunung, meski tidak seluruhnya sampai di puncak, seperti Sindoro dan Salak.
malam di kebayoran lama
Ya, Gede memang menjadi titik awal. Bukan tanpa alasan saya memilih gunung yang terletak di Jawa Barat tersebut sebagai pendakian perdana. Ini berawal dari rasa tidak percaya diri saya melakoni kegiatan hiking: takut tidak kuat.
Maklum saja, mendaki gunung itu kan pekerjaan yang berat. Mesti melewati medan yang menanjak sambil menggendong ransel segede gaban yang pastinya berat banget. Jarak yang ditempuh minimal belasan kilometer. Siapa yang tahan?
Nah, kebetulan adik saya tercinta yang waktu itu masih duduk di bangku STM menjadi volunteer Gede Pangrango Operation (GPO), yang bertugas di jalur pendakian Gunung Putri, Cipanas. Jadilah, saya memulai pendakian perdana pada 23 Agustus 1998 lalu.
Toh, kalau tidak kuat sehingga tak bisa mencapai puncak, no problem. Adik saya pasti mengerti sehingga tidak perlu melanjutkan perjalanan hingga puncak. Beda kalau dengan teman, wah, bisa bikin mereka kecewa berat.
Pendakian ke Gede itu bisa dibilang pendakian keluarga. Soalnya, selain saya dan adik, ada kakak, calon kakak ipar, dua sepupu dan dua paman. Total jenderal, ada delapan orang. Dan, hanya dua orang yang pernah mendaki gunung: adik dan salah satu sepupu saya.
Menjelang sore kami mulai pendakian melewati jalur Cibodas. Awalnya, berat banget. Sampai ngos-ngosan dibuatnya. Tapi, pendakian berjalan lancar hingga kami sampai di Kandang Badak--titik yang membelah jalur ke Puncak Gede dan Pangrango--mendekati tengah malam. Dan, menginjakkan kaki di puncak Gede menjelang subuh.
Nggak menyangka, saya bisa menjejakkan kaki di puncak Gede dalam semalam. Sukses ini yang lantas mendorong saya untuk mendaki Gunung Merbabu beberapa bulan kemudian. Bahkan, selang waktu yang lama saya mendaki Gunung Sumbing dan Lawu.
Dan, menyusul gunung-gunung lainnya, termasuk Gunung Semeru yang merupakan atap tertinggi di Pulau Jawa, dan Gunung Agung, yang adalah tanah paling tinggi di Pulau Bali. Semuanya ada 10 gunung, meski tidak seluruhnya sampai di puncak, seperti Sindoro dan Salak.
malam di kebayoran lama
Langganan:
Postingan (Atom)