Akhir pekan lalu, menjadi hari yang paling dinanti-nanti dengan rasa dag-dig-dug oleh ratusan ribu pelajar kelas tiga SMA. Ya, hari itu kelulusan mereka usai menempuh ujian nasional diumumkan. Begitu tahu lulus, banyak cara yang dilakukan untuk mengekspresikan kegembiraan. Ada yang doa massal di pura seperti yang dilakukan pelajar Bali. Lalu, ada yang konvoi keliling kota dengan menumpang motor. Tapi yang paling populer adalah aksi coret baju yang memang sudah menjadi tradisi.
Sebagai orang yang punya hobi naik gunung, saya punya cara yang beda dan unik sebagai wujud syukur setelah berhasil menyabet gelar sarjana komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta delapan tahun lalu. Sebetulnya, ini juga menjadi tradisi bagi sebagian pendaki: memakai toga di puncak gunung. Dan, saya memilih puncak Merbabu yang bernama Kenteng Songo. Gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut (dpl) memang menjadi favorit saya. Ini kali ketiga saya mendaki gunung tersebut
Perjalanan saya menuju puncak gunung yang hidup berdampingan dengan Merapi tersebut di awal 2001 yang masih diguyur hujan ditemani adik dan dua teman. Cuaca cerah menemani pendakian kami dari Selo yang menjadi salah satu kaki Merbabu. Menjelang tengah malam kami tiba di padang rumput alias savana Merbabu. Dan, kami bermalam di sana.
Cuaca yang tadinya cerah mendadak berubah mendekati subuh. Hujan turun dengan lebatnya disertai angin kencang. Bulir-bulir air pun menyusup masuk ke dalam tenda. Kantong tidur yang melindungi kami dari sergapan udara dingin akhirnya basah. Hujan baru reda ketika pagi sudah lewat tinggal menyisakan angin kencang dan kabut tebal yang menyerbu savana Merbabu.
Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian ke Kenteng Songo, meski rasa kecewa lantaran rencana memakai toga di puncak Merbabu batal. Tapi, kami boleh dibilang beruntung. Soalnya, seorang pendaki tewas karena nekad menerobos badai dan kabut tebal guna mencapai puncak Merbabu. Berita ini saya dapat seminggu setelah pendakian yang gagal tersebut.
Kabar duka juga melesat dari Gunung Slamet. Sejumlah mahasiswa UGM tewas di gunung paling tinggi di Jawa Tengah tersebut. Menyusul kemudian berita duka dari Gunung Lawu. Dua pecinta alam juga meregang nyawa di sana. Dua pendaki lainnya tewas di gunung yang ada di Sulawesi. Tahun ini memang menjadi tahun duka bagi dunia pendakian Indonesia. Lebih dari 10 pendaki tewas dalam waktu yang bersamaan. Penyebabnya, cuaca buruk. Memang betul kata orang tua: Alam Bukan Untuk Dilawan
siang di kebayoran lama
Kamis, 19 Juni 2008
Kamis, 05 Juni 2008
BERI AMBULANS JALAN!

Apa yang saya khawatirkan akhirnya kejadian juga. Ahad (1/6) dinihari lalu, mobil Honda Jazz yang ditumpangi seorang penyanyi muda menghajar Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta.
Sabtu (24/5) dua pekan lalu, surat pembaca saya berjudul Beri Ambulans Jalan! dimuat di Harian KONTAN. Surat pembaca ini sebetulnya merupakan bagian dari kekhawatiran saya atas keselamatan istri tercinta sewaktu bertugas membawa korban gawat darurat. Oh ya, dia bekerja di Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Sabtu (24/5) dua pekan lalu, surat pembaca saya berjudul Beri Ambulans Jalan! dimuat di Harian KONTAN. Surat pembaca ini sebetulnya merupakan bagian dari kekhawatiran saya atas keselamatan istri tercinta sewaktu bertugas membawa korban gawat darurat. Oh ya, dia bekerja di Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Pernah suatu kali, di suatu siang, dia cerita ambulans-nya diseruduk motor dari samping ketika membawa pasien yang butuh penanganan segera di rumah. Sirene sudah meraung-raung dan lampu mobil depan menyala, bahkan polisi sudah meminta mobil dan motor berhenti untuk memberi kesempatan ambulans lewat. Tapi, kenyataannya masih juga ada orang yang nekad.
Di kemudian hari, dia cerita lagi ambulans-nya nyaris saja ditubruk mobil yang melaju kencang di jalur busway. Itu sebabnya, saya mengirim surat pembaca dengan maksud memberi tahukan ke warga Jakarta tentang keberadaan Ambulans Gawat Darurat termasuk kinerja mereka sewaktu membawa pasien atau korban.
Tapi, akhirnya yang saya takutkan akhirnya terjadi. Memang, tidak menimpa istri saya, melainkan rekan kerjanya. Karena itu, saya meminta sekali kepada warga Jakarta untuk mengerti dan memahami tugas Ambulans Gawat Darurat. Begitu banyak nyawa yang sudah mereka selamatkan, tapi tak banyak orang yang tahu.
Jadi, Beri Ambulans Gawat Darurat Jalan!
malam di kebayoran lama
Selasa, 20 Mei 2008
OPERASI TRIKORA

Hari INI tepat seabad peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Dan, tepat 57 tahun usia ibunda tercinta yang melahirkan saya. Selamat Ulang Tahun, Mam.
Beberapa waktu lalu iseng masuk ke situs id.wikipedia.org. Ketemu artikel berjudul: Operasi Trikora. Ternyata, operasi militer yang juga dikenal dengan Pembebasan Irian Barat ini menjadikan Indonesia negara yang memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan, khususnya Asia Tenggara waktu itu.
Perang melawan Belanda yang berlangsung hampir setahun, persisnya sejak 19 Desember 1961 sampai 15 Agustus 1962, tersebut memaksa Presiden Soekarno memborong mesin perang dari Rusia dan Polandia seharga US$ 2,5 miliar.
Ini daftarnya, 41 Helikopter MI-4, 9 Helikopter MI-6, 30 pesawat latih Jet MIG-15 UTI, 49 pesawat baru sergap MIG-17, 10 pesawat buru sergap MIG-19 dan 2 pesawat buru sergap supersonic MIG-21. Dari jenis pengebom, ada 22 pesawat pembom ringan IL-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16B, dan 12 pesawat TL-16 KS yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali Air to Surface jenis AS-1 Kennel. Lalu, jenis pengangkut: 26 pesawat IL-14 dan AQvia-14, serta 6 pesawat AN12B Antonov.
Indonesia juga membeli 12 kapal selam kelas Whiskwy, puluhan korvet dan 1 kapal penjelajah kelas Sverdlov.
Semua itu belum termasuk peralatan tempur sisa-sisa penjajahan Belanda dan Jepang yang jumlahnya ratusan. Hebat bukan?
malam di kebayoran lama
Beberapa waktu lalu iseng masuk ke situs id.wikipedia.org. Ketemu artikel berjudul: Operasi Trikora. Ternyata, operasi militer yang juga dikenal dengan Pembebasan Irian Barat ini menjadikan Indonesia negara yang memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan, khususnya Asia Tenggara waktu itu.
Perang melawan Belanda yang berlangsung hampir setahun, persisnya sejak 19 Desember 1961 sampai 15 Agustus 1962, tersebut memaksa Presiden Soekarno memborong mesin perang dari Rusia dan Polandia seharga US$ 2,5 miliar.
Ini daftarnya, 41 Helikopter MI-4, 9 Helikopter MI-6, 30 pesawat latih Jet MIG-15 UTI, 49 pesawat baru sergap MIG-17, 10 pesawat buru sergap MIG-19 dan 2 pesawat buru sergap supersonic MIG-21. Dari jenis pengebom, ada 22 pesawat pembom ringan IL-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16B, dan 12 pesawat TL-16 KS yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali Air to Surface jenis AS-1 Kennel. Lalu, jenis pengangkut: 26 pesawat IL-14 dan AQvia-14, serta 6 pesawat AN12B Antonov.
Indonesia juga membeli 12 kapal selam kelas Whiskwy, puluhan korvet dan 1 kapal penjelajah kelas Sverdlov.
Semua itu belum termasuk peralatan tempur sisa-sisa penjajahan Belanda dan Jepang yang jumlahnya ratusan. Hebat bukan?
malam di kebayoran lama
Kamis, 15 Mei 2008
AGUNG YADNYA

Lima hari lepas dari rutinitas sebagai wartawan di Jakarta. Lantas, berganti dengan kesibukan persiapan dan proses rangkaian Upacara Agung Yadnya: Melaspas, Mepandes dan Nurunin di Tabanan, Bali pada 8-12 Mei lalu.
Lima hari lepas dari sumpeknya Kota Jakarta. Lantas, berganti suasana asri pedesaan dengan perkebunan coklat, kopi dan cengkih yang ada di perbukitan Tabanan, Bali yang sejuk. Sembari menikmati panen duren monthong.
sore di kebayoran lama
Lima hari lepas dari sumpeknya Kota Jakarta. Lantas, berganti suasana asri pedesaan dengan perkebunan coklat, kopi dan cengkih yang ada di perbukitan Tabanan, Bali yang sejuk. Sembari menikmati panen duren monthong.
sore di kebayoran lama
Rabu, 30 April 2008
WEDDING ANNIVERSARY (2)
Dua tahun lalu
Dua anak manusia: pria dan wanita
Dua latar budaya: Jawa dan Bali
Dua agama: Katolik dan Hindu
Dua profesi: wartawan dan paramedis
Mengikat janji suci
Mereka tidak lagi dua melainkan satu
Dalam Upacara Pelepasan di Pura Keluarga, Tabanan, Bali pada 26 April 2006 dan
Dalam Sakramen Perkawinan di Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Jakarta pada 30 April 2006
Stepanus Sudarto Kurniawan dengan Brigitta Putu Yuliastini
Happy Our 2nd Wedding Anniversary
siang di kunciran
Dua anak manusia: pria dan wanita
Dua latar budaya: Jawa dan Bali
Dua agama: Katolik dan Hindu
Dua profesi: wartawan dan paramedis
Mengikat janji suci
Mereka tidak lagi dua melainkan satu
Dalam Upacara Pelepasan di Pura Keluarga, Tabanan, Bali pada 26 April 2006 dan
Dalam Sakramen Perkawinan di Gereja Santo Aloysius Gonzaga, Jakarta pada 30 April 2006
Stepanus Sudarto Kurniawan dengan Brigitta Putu Yuliastini
Happy Our 2nd Wedding Anniversary
siang di kunciran
Senin, 14 April 2008
KABUT KUNCIRAN
Subuh baru saja lewat. Tapi, gelap masih menyergap kawasan Kunciran, Tangerang, Kamis (10/4) lalu. Tak biasanya, sekawanan kabut menyerang wilayah yang menempel dengan Jakarta tersebut. Lumayan tebal sehingga mengurangi jarak pandang saya yang pagi itu sudah mesti beraktivitas keluar rumah. Saya mesti mengantar istri yang akan bertugas menjadi tim kesehatan dalam sebuah acara yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Memang tak biasa. Sebab, kalau pun karya surga tersebut menghampir Kunciran biasanya tak setebal itu. Juga tak biasa, lantaran kabut sepekat itu umumnya menyerbu kawasan pegunungan. Tapi, jujur senang banget kabut setebal itu datang ke daerah tempat tinggal saya. Apalagi, sudah lama tidak melihat kabut stebal itu setelah lama tidak bermain-main dengan alam. Entah itu untuk melakoni hobi mendaki gunung atau sekadar berkemah di kaki gunung.
Saya betul-betul rindu. Dan sedikit terobati dengan kehadiran kabut di Kunciran saat pagi belum sempurna itu, meski saya tidak tahu persis kapan dia datang karena tidak mengetuk pintu.
pagi di kunciran
Memang tak biasa. Sebab, kalau pun karya surga tersebut menghampir Kunciran biasanya tak setebal itu. Juga tak biasa, lantaran kabut sepekat itu umumnya menyerbu kawasan pegunungan. Tapi, jujur senang banget kabut setebal itu datang ke daerah tempat tinggal saya. Apalagi, sudah lama tidak melihat kabut stebal itu setelah lama tidak bermain-main dengan alam. Entah itu untuk melakoni hobi mendaki gunung atau sekadar berkemah di kaki gunung.
Saya betul-betul rindu. Dan sedikit terobati dengan kehadiran kabut di Kunciran saat pagi belum sempurna itu, meski saya tidak tahu persis kapan dia datang karena tidak mengetuk pintu.
pagi di kunciran
Selasa, 18 Maret 2008
SEVEN SUMMIT

Torehan sejarah dalam jagad pendakian gunung siap digores Indonesia lewat Franky Kowaas. “Ekspedisi Indonesia Mendaki Tujuh Puncak Tertinggi di Tujuh Benua” bakal mengantarkan Indonesia menjadi negara ke 34 yang berhasil menaklukkan atap-atap dunia tersebut. Adapun Franky akan menjadi pendaki ke 109 yang sukses menjejakkan kaki di Seven Summit itu.
Ketujuh puncak yang menjulang ke angkasa tersebut, yakni Everest (Nepal), Aconcagua (Argentina), McKinley/Denali (Alaska), Kilimanjaro (Tanzania), Elbrus (Rusia), Vinson Massif (Ellsworth Range), dan Carstensz Pyramid (Indonesia). Rencananya ekspedisi tersebut akan dimulai Maret 2008 dan berakhir September 2009. Puncak pertama yang akan coba ditaklukan Franky yaitu Kilimanjaro.
Delapan tahun lalu, saya bersama teman-teman dari Mahapati Adventure Team pernah melakukan Ekspedisi Agung – Rinjani. Puncak Gunung Agung setinggi 3.142 meter yang menjilat langit Bali merupakan tanah tertinggi di Pulau Dewata. Sedangkan Puncak Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter adalah atap tertinggi di Pulau Lombok. Sayang, saya batal meneruskan ekspedisi ke Rinjani usai mencium Puncak Gunung Agung lantaran diminta kembali ke Jogja untuk urusan keluarga. Penyesalan batal mendaki Rinjani yang terkenal dengan Segara Anakan yang di tengah-tengahnya menyembul anak Rinjani masih terbawa sampai sekarang. Saya mencoba mengulang ekspedisi itu lima tahun lalu, tapi lagi-lagi batal. Entah kapan saya bisa mencapai tanah tertinggi di Pulau Lombok tersebut. Tinggal ini impian dalam jagad pendakian saya.
Ketujuh puncak yang menjulang ke angkasa tersebut, yakni Everest (Nepal), Aconcagua (Argentina), McKinley/Denali (Alaska), Kilimanjaro (Tanzania), Elbrus (Rusia), Vinson Massif (Ellsworth Range), dan Carstensz Pyramid (Indonesia). Rencananya ekspedisi tersebut akan dimulai Maret 2008 dan berakhir September 2009. Puncak pertama yang akan coba ditaklukan Franky yaitu Kilimanjaro.
Delapan tahun lalu, saya bersama teman-teman dari Mahapati Adventure Team pernah melakukan Ekspedisi Agung – Rinjani. Puncak Gunung Agung setinggi 3.142 meter yang menjilat langit Bali merupakan tanah tertinggi di Pulau Dewata. Sedangkan Puncak Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter adalah atap tertinggi di Pulau Lombok. Sayang, saya batal meneruskan ekspedisi ke Rinjani usai mencium Puncak Gunung Agung lantaran diminta kembali ke Jogja untuk urusan keluarga. Penyesalan batal mendaki Rinjani yang terkenal dengan Segara Anakan yang di tengah-tengahnya menyembul anak Rinjani masih terbawa sampai sekarang. Saya mencoba mengulang ekspedisi itu lima tahun lalu, tapi lagi-lagi batal. Entah kapan saya bisa mencapai tanah tertinggi di Pulau Lombok tersebut. Tinggal ini impian dalam jagad pendakian saya.
sore di kebayoran lama
Langganan:
Postingan (Atom)